<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fwidayanto.com &#124; clay statement..his way of life</title>
	<atom:link href="http://fwidayanto.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fwidayanto.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Jun 2009 13:06:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tempo Majalah 21 Juni 2009: Semar Tanpa Kelir</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/tempo-majalah-21-juni-2009-semar-tanpa-kelir</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/tempo-majalah-21-juni-2009-semar-tanpa-kelir#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 13:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tiga puluh keramik berbentuk Semar karya Widayanto memikat berkat detail dan bentuk sosok yang sempurna. Pameran ini pun didukung buku yang menjelaskan tanpa mengajari.
Tanpa banyak bicara, keramikus Widayanto mengangkat Lurah Desa Karang tumaritis menjadi warga dunia. Lurah itu bernama Semar, hidup dalam dunia pewayangan Jawa dan Bali, berperan sebagai pamong: orang yang melayani. Dunianya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga puluh keramik berbentuk Semar karya Widayanto memikat berkat detail dan bentuk sosok yang sempurna. Pameran ini pun didukung buku yang menjelaskan tanpa mengajari.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, keramikus Widayanto mengangkat Lurah Desa Karang tumaritis menjadi warga dunia. Lurah itu bernama Semar, hidup dalam dunia pewayangan Jawa dan Bali, berperan sebagai pamong: orang yang melayani. Dunianya adalah dunia Pandawa dan Amarta, juga dunia Rama dan Sinta, ditambah jagatnya Arjuna Sasrabahu. Pendek kata, bila wayang kulit dipergelarkan, apa pun lakonnya, bila sang dalang berkenan, Semar (dan anak-anaknya) pun dihadirkan.</p>
<p>Berangkat dari Semar yang ada di mana-mana itu meski tetap dalam dunia pewayangan, pameran 30 karya keramik berwujud Semar di Galeri Nasional hingga Jumat pekan lalu sesungguhnya bukan milik F. Widayanto sendiri. Toh, tetap saja pameran ini punya sesuatu yang tak terduga. Tiba-tiba kita bertemu dengan Semar yang memerankan Yesus (dalam <em>King of King</em>). Atau yang sedang berbaring sebagai Buddha (<em>Lotus Fall</em>). Ada pula yang mengingatkan kita pada patung Sang Pemikir karya Rodin (<em>Think S&#8217;mar</em>). Juga hadir Semar sebagai Salvador Dali, pelukis surealis yang begitu khas kumisnya itu (<em>Dali Mania</em>).</p>
<p>Ada pula Semar yang mendapat penghormatan khusus dari penciptanya, ditaruh di ruang tersendiri, dengan pencahayaan yang diatur dan diberi julukan <em>Ayoming Jagad</em> (pelindung semesta). Wajahnya memandang lurus ke depan, senyum lebar dan mata membelalak. Di tangan kiri, bola dunia. Kata penciptanya dalam buku yang diterbitkan bersamaan dengan pameran ini: &#8220;Semar&#8230; untuk segala masa, segala bangsa, dan segala budaya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dari pameran tunggal ke pameran tunggal, Widayanto memang selalu mengambil satu tema garapan. Pameran &#8220;Wadah Air&#8221; (1987), lalu &#8220;Loro Blonyo&#8221; (1990), dan seterusnya sampai pameran yang ke-13 kini, &#8220;Semarak 30 Semar&#8221;. Dan dari pameran tunggal yang pertama, &#8220;Wadah Air&#8221; itu hingga yang &#8220;Semar&#8221;, satu hal tetap terjaga: kepiawaian tangannya meremas, mengelus, menjemput, memoles dalam membentuk tanah liat, termasuk menggambarinya dengan hiasan-hiasan dan lalu mewarnainya, tak perlu dipertanyakan.</p>
<p>Ihwal bentuk, penguasaan anatomi figur umpamanya—dari zaman &#8220;Loro Blonyo&#8221;, lalu &#8220;Ganesha-Ganeshi&#8221; sampai &#8220;Semar&#8221; kini sedemikian rupa hingga figur-figurnya hadir bak pemain akrobat: apa pun polah sang figur, asal masih memungkinkan untuk dipajang dan tidak ambruk, dengan enak figur itu pun hadir. Lalu detail—keramikus satu ini boleh dibilang <em>master of details</em>—meski itu lipatan kain, atau ruas jari, atau kerut di sudut bibir, tergarap dengan keprigelan yang cermat. Juga, teknik Widayanto menambahkan bahan lain pada keramiknya demikian menyatu hingga terasa bahwa semua itu keramik. Baru dalam jarak dekat kita melihat ternyata itu logam (misalnya kipas bertongkat, tali ikat pinggang, cabai hiasan telinga, dan batu cincin pada Semar-Semar itu).</p>
<p>Juga, dalam soal rasa bentuk, tiap bentuk hadir mewakili karakter masing-masing. Daging ya terasa daging, kuku ya kuku, berbeda dengan kain atau topi, apalagi dengan bentuk burung (misalnya pada <em>God Will Do</em>, Semar yang tengkurap dengan tangan kanan menyangga kepala, dua burung putih menemaninya; satu di belikat kiri, satu lagi bertengger di tangan kanan).</p>
<p>Pada wayang kulit, wayang Semar &#8220;hidup&#8221; ketika sang dalang menghadirkannya dengan Latar belakang kelir putih dengan penerangan blencong, lampu minyak yang didesain khusus (kini banyak dalang menambahkan penerangan dengan lampu listrik). Maka sebentuk kulit kerbau itu pun memukau, mengundang tawa, menyeret emosi penonton untuk bersorak dan bertepuk. Pada wayang yang sama dan tentu saja tak berubah itu, di tangan ki dalang kita melihat ekspresi sedih, gembira, marah, terharu, dan sebagainya.</p>
<p>Di ruang pameran, Semar-Semar Widayanto tak perlu dihidupkan—justru ini berbahaya karena keramik adalah benda yang termasuk mudah retak, gempil, pecah. Patung-patung keramik berbentuk Semar ini sudah &#8220;hidup&#8221;, dengan berbagai peran, terutama tampak dari bentuk dan kostumnya: Yang segera perlu dicatat, menurut kesan saya, ketiga puluh Semar itu semuanya berwajah sumringah, gembira, tanpa beban. Ekspresi ini terasa biarpun Semar sedang mengantuk (<em>Sleepless Batara</em> dan <em>Leyehan</em>), atau sedikit sendu (ya, sedikit saja) pada <em>Moody Blue</em>.</p>
<p>Ada perkecualian, memang. Semar tampak serius pads dua patung: <em>Think S&#8217;mar</em> dan <em>Smarasati</em>. Tersebut pertama dengan mata &#8220;kosong&#8221; Semar yang duduk itu menatap ke depan dengan sudut pandang ke bawah. Tersebut berikut, Semar berdiri, tangan kiri dilipat ke belakang dan tangan kanan ditekuk mengepit sarung, mata terpejam, dahi berkerut. Dua Semar yang serius berpikir. Smara, bisa bermakna &#8220;peperangan, bidadari, papan&#8221; (kata benda), atau &#8220;tertarik&#8221; (kata kerja). Sedangkan sati berarti ‘sungguh-sungguh’ atau ‘sangat’.</p>
<p>Inilah tafsir Widayanto atas Semar yang umumnya dianggap makhluk yang sudah mengatasi keduniawian, menjadi simbol penjaga alam semesta. Ia sekaligus suka dan duka (ia selalu tersenyum, tapi matanya merah pertanda sering menangis). Dalam dirinya adalah segala usia: tampil sebagai orang tua namun berkuncung bagaikan anak-anak. Ia dipanggil bapak, namun dada dan pantatnya lebih mirip perempuan. Ia dewa, saudara tua Batara Guru, namun hidup di antara rakyat jelata. Ia mengabdi dan melayani para satria namun juga berperan sebagai orang tua dan guru. Secara fisik ia buruk, tampil hampir telanjang, namun Sakti mandraguna.</p>
<p>Semar dengan demikian adalah segalanya. Tak mudah menghadirkan &#8220;segala&#8221;-nya ini hanya dengan 30 patung keramik, betapapun sempurna penggarapan teknik itu. Misalnya, Widayanto &#8220;melupakan&#8221; Semar yang merakyat sebagaimana pada wayang kulit (ini disinggung juga oleh Susanto Pudjomartono pada buku Semarak 30 Semar). Pencipta wayang Semar (entah siapa) memberinya sarung batik motif <em>kawung</em>. Motif ini, menurut keyakinan turun-temurun, adalah motif yang demokratis: boleh dan pantas dipakai siapa saja, dari raja sampai punggawa, dari satria sampai jelata.</p>
<p>Namun itulah Widayanto. Kecenderungannya pada detail, mengisi setiap bidang dengan ornamen, sesungguhnya bertentangan dengan hakikat Semar yang &#8220;sederhana&#8221;. Menurut rasa saya, ornamen yang ramai itulah yang menenggelamkan perbedaan antara Semar yang satu dan yang lain. Setidaknya, beda antara Semar yang satu dan yang lain tak cepat terasa.</p>
<p>Mungkin, inilah &#8220;risiko&#8221; seorang keramikus yang harus bekerja terencana, &#8220;matematis&#8221;, memperhitungkan keseimbangan, mencermati tiap sentimeter persegi permukaan bentuk. Daya pukau karya Widayanto menurut saya memang di situ: kemeriahan yang harmonis, disuguhkan dalam teknik tingkat tinggi, keperpaduan bentuk yang merepresentasikan gagasan. Kerumitan dan kepresisian karya yang datang dari Widayanto memang berkelas. Dengan demikian, akhirnya, tergantung selera Anda. Sebagai perbandingan, inilah Kabuki yang meriah dandanannya, tampil dalam teknik tinggi, dan tak relevan untuk dibandingkan dengan Noh yang subtil, yang mengisap kesadaran penonton hampir dengan tanpa gerak, untuk dituntun memasuki dunia yang lain.</p>
<p><strong>Bambang Bujono</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/tempo-majalah-21-juni-2009-semar-tanpa-kelir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Indonesia Minggu 14 Juni 2009: Rupa Semar di Era Modern</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/media-indonesia-minggu-14-juni-2009-rupa-semar-di-era-modern</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/media-indonesia-minggu-14-juni-2009-rupa-semar-di-era-modern#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 05:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Ia Buddha, dirinya Zeus, ia seorang binaragawan, dan dialah Raja Romawi.
Itulah Semar, hasil karya imajinasi F. Widayanto. Dalam mitologi Jawa, Semar disebut Badranaya, yang identik dengan tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang.
Namun dalam benak pikiran Widayanto, Semar harus untuk segala masa, segala bangsa, dan segala budaya serta tetap aktual dan hidup. Filosofinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ia Buddha, dirinya Zeus, ia seorang binaragawan, dan dialah Raja Romawi.</p>
<p>Itulah Semar, hasil karya imajinasi F. Widayanto. Dalam mitologi Jawa, Semar disebut <em>Badranaya</em>, yang identik dengan tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang.</p>
<p>Namun dalam benak pikiran Widayanto, Semar harus untuk segala masa, segala bangsa, dan segala budaya serta tetap aktual dan hidup. Filosofinya bisa masuk ke mana dan kapan saja, tanpa tergerus oleh zaman.</p>
<p>Meski Semar itu serba di antara, tidak jelas atau samar-samar dari luar antara sedih atau gembira, laki-laki atau perempuan, anak-anak ataupun sudah tua.</p>
<p>Namun dalam diri Semar, bagaimanapun Widayanto melukisnya pada keramik dalam berbagai gaya dan aksesori yang dikenakan, ia tetap memiliki karisma yang kuat untuk memberi teladan agar selalu ingat kepada Sang Pencipta, menyayangi sesama umat, serta menegakkan kebenaran dan keadilan di bumf. Di zaman serba rumit dan &#8216;edan&#8217; ini lah dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengarahkan dan membimbing rakyatnya ke jalan yang benar.</p>
<p>&#8220;Semar menjadi seorang pamong <em>kang sepi ing pamrih, rame ing gawe</em> (pamong yang bekerja tanpa pamrih). Ini mengingatkan para pemimpin bangsa saat ini agar lebih memperhatikan nasib rakyatnya yang sedang susah,&#8221; kata Widayanto.</p>
<p>Alasan inilah yang membuat Widayanto untuk mengangkat sosok Semar. Sebab, seperti diyakini dalam kejawen, inilah saatnya kita harus menjadi seperti Semar.</p>
<p>Karakteristik Semar inilah yang terlihat dalam pameran tunggal karya F. Widayanto yang bertajuk Semarak 30 Semar. Acara ini berlangsung pada 5-12 Juni di Galeri Nasional Indonesia mulai pukul 10.00-19.00.</p>
<p>Dalam pameran itu, pengunjung akan menikmati 30 buah keramik Semar dengan berbagai wujud dan rupa. Seperti Semar Dewa Yunani, Menyapa (<em>Nihow</em>), Yesus (<em>King of King</em>), <em>The Camp</em>, <em>Badranaya Sang Hyang</em>, dan <em>God Will Do</em>.</p>
<p>Menurut Widayanto, konsep pameran ini mengandung dua misi yakni pemimpin yang baik dan penggembira masyarakat di tengah krisis. &#8220;Semar yang saya tampilkan adalah semar segala cuaca, baik panas maupun hujan. Sosok Semar diyakini akan tetap eksis,&#8221; kata Widayanto.</p>
<p>Meskipun kreativitas mewarnai wujud Semar karya Widayanto, ciri khas tidak ditanggalkan begitu saja. Tanda-tanda Semar seperti subang &#8216;Lombok&#8217;, &#8216;mripat beyes&#8217; (mata berair) masih dipertahankan.</p>
<p>Salah satu ciri khas yang paling menonjol pada Semar karya Widayanto adalah jambul atau kuncungnya. Dirinya merancang kuncung pada sosok Semar begitu <em>extravaganza</em>, memberi kesan sang pemimpin yang berwibawa, namun tetap rendah hati.</p>
<p>Dalam tokoh pewayangan, Semar merupakan sosok yang jujur, sederhana, <em>eling</em>, dan waspada. Pemilihan tokoh Semar sebagai bentuk kritik dan kepedulian terhadap situasi dunia.</p>
<p>Proses pembuatan keramik Semar ini sendiri membutuhkan proses yang memakan waktu. Hal ini disebabkan kebutuhan akan pendalaman karakter Semar itu sendiri. (*/M-4)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/media-indonesia-minggu-14-juni-2009-rupa-semar-di-era-modern/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koran Tempo Rabu 10 Juni 2009: Semar &#8216;Wangi&#8217; Made in Tapos</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/koran-tempo-rabu-10-juni-2009-semar-wangi-made-in-tapos</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/koran-tempo-rabu-10-juni-2009-semar-wangi-made-in-tapos#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 05:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Semar itu demikian eksotis. Perut &#8220;burayut&#8221;-nya (buncit) begitu menonjol ke depan. Ia bersandar pada pilar batu hitam penuh bunga. Tangan kirinya memegang &#8220;tongkat kebesaran&#8221; berhiaskan kuncup bunga. Selendang mayangnya berwarna biru bertaburkan motif kupu-kupu. Ia mengenakan kain batik hijau motif kuwung. Meski kainnya telah dililit ikat pinggang kulit, mungkin karena takut melorot ke bawah, ujung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semar itu demikian eksotis. Perut &#8220;burayut&#8221;-nya (buncit) begitu menonjol ke depan. Ia bersandar pada pilar batu hitam penuh bunga. Tangan kirinya memegang &#8220;tongkat kebesaran&#8221; berhiaskan kuncup bunga. Selendang mayangnya berwarna biru bertaburkan motif kupu-kupu. Ia mengenakan kain batik hijau motif kuwung. Meski kainnya telah dililit ikat pinggang kulit, mungkin karena takut melorot ke bawah, ujung kain itu dipegang jempol dan jari manisnya.</p>
<p>Itulah salah satu keramik Semar bertitel <em>King of King</em> buatan &#8220;keramikus&#8221; F. Widayanto, yang dipamerkan di Galeri Nasional. Widayanto menampilkan 30 patung Semar dengan berbagai ekspresi tingkah, dari Semar leyeh-leyeh sampai Semar tidur sore-sore. Kulit Semar rata-rata putih, tidak cokelat-kehitaman seperti gambaran Semar di wayang kulit atau golek.</p>
<p>Hampir semua perut buncit Semar berhiaskan berbagai corak dan warna, seperti bunga, daun, ilalang, naga, dan kupu-kupu. Beberapa corak pada perut Semar mengingatkan kita pada aneka motif tato. Di tangan Widayanto, Semar yang seperti rakyat jelata, dipreteli unsur filosofisnya, menjadi wangi dan perlente.</p>
<p>Melihat patung-patung Semar itu, orang bisa ingat berbagai variasi patung-patung Buddha tertawa. Di kalangan penganut Buddha tertentu dikenal Maitreya atau Buddha masa depan. Sosoknya berupa seorang biksu gendut tertawa sembari membawa kantong kain besar. Biksu itu selalu gembira. Patungpatungnya, sering dengan berbagai variasi, mengekspresikan keriangan dengan perut buncit terbuka. Perut buncitnya mirip perut buncit Semar ala Widayanto. Bedanya, ia tetap kelihatan sederhana dan kainnya tidak penuh hiasan. Sedangkan Semar garapan Widayanto begitu mewah. Semar di tangan Widayanto jadi molek dan kenes. Lihatlah patung bertajuk <em>Super Semar</em>. Perut buncitnya bergambar naga. Ia mengenakan selendang mayang terbuat dari &#8220;kulit beruang&#8221; lengkap dengan kepala dan kuku tajamnya. Tali celana dalamnya berhiaskan tas corak bunga lengkap dengan kupu-kupunya. Tongkat kebesarannya berbahan logam bercorak dua katak duduk di bunga teratai bertaburkan rumput ilalang.</p>
<p>Semua keramik Semar itu dibuat Widayanto di dapur produksinya di kawasan Tapos, Ciawi, Bogor Lokasi dapur keramik PT Widayanto Citra Tembikarindo itu sekitar 9 kilometer dari perempatan Ciawi Kabupaten Bogor—posisinya persis di bawah peternakan sapi Tapos milik keluarga Cendana. Di lahan seluas 1,6 hektare milik Widayanto itu terdapat &#8220;dapur&#8221; keramik seluas 300 meter persegi dengan tiga tungku besar. Di ruang inilah Widayanto membuat ke-30 Semar karyanya. &#8220;Selama dua tahun, saya hanya sanggup membuat 30 Semar. Mungkin karena sudah capek,&#8221; kata alumnus jurusan keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung tahun 1981 itu. </p>
<p>Widayanto menceritakan, mulanya ia kesulitan memunculkan karakter kuat sosok Semar. Namun, setelah satu karya dihasilkan, barulah ide selanjutnya mengalir. Menurut Widayanto, untuk menghias Semarnya, ide datang dari berbagai sosok. Seperti karyanya, <em>Zeus Mar</em>, yang menampilkan sosok Semar bergaya Dewa Zeus. Di perut buncitna, ia menato sosok khas Romawi, dan pada kelat bahunya, ia torehkan hiasan Raja Romawi. Ada-pun selendang mayang juga ia buat seperti selendang yang dikenakan raja-raja Romawi. Yang menarik adalah satu karyanya yang mengambil inspirasi dari sosok Slamet Gundono. Dalang tambun asal Tegal itu dikenal senang memainkan ukulele. Widayanto membuat patung Semar bermain ukulele dan di bahu kanannya ads seekor burung garuda mengepakkan sayapnya ikut bernyanyi. Mats Semar tampak kaget melirik ke arah burung itu. &#8220;Slamet Gundono lucu saat bernyanyi,&#8221; Widayanto berkomentar.</p>
<p><strong>DEFFAN PURNAMA</strong> | SENO JOKO SUYONO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/koran-tempo-rabu-10-juni-2009-semar-wangi-made-in-tapos/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompas Minggu 7 Juni 2009: Isak Tangis Semar</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/kompas-minggu-7-juni-2009-isak-tangis-semar</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/kompas-minggu-7-juni-2009-isak-tangis-semar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 05:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Mangkya darajating praja/ kawuryan was sunya ruri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi/ atilar silastuti/ sujana sarjana kelu/ kalulun kalatidha/ tidhem tandhaning dumadi/ ardyanengrat dene karoban rubeda.
OLEH SINDHUNATA
Secuplik tembang Sinom di atas adalah petikan dari ramalan Serat Kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita. Rasa-rasanya ramalan itu sedang menjadi kenyataan kita sekarang. Sebab sekarang kita berada dalam keadaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mangkya darajating praja/ kawuryan was sunya ruri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi/ atilar silastuti/ sujana sarjana kelu/ kalulun kalatidha/ tidhem tandhaning dumadi/ ardyanengrat dene karoban rubeda.</em></p>
<p>OLEH <strong>SINDHUNATA</strong></p>
<p>Secuplik tembang Sinom di atas adalah petikan dari ramalan Serat Kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita. Rasa-rasanya ramalan itu sedang menjadi kenyataan kita sekarang. Sebab sekarang kita berada dalam keadaan yang serba repot dan tak menentu. Nyaris tak ada tokoh yang patut dijadikan panutan. Kata-kata para tokoh simpang siur, penuh dengan janji kosong dan kebohongan. Sedikit pun tiada lagi rasa malu jika mereka melanggar aturan dan cita-cita kemasyarakatan. Para cerdik cendikia pun ikut tergulung arus zaman edan.</p>
<p>Dalam kacamata Serat Kalatidha, keadaan serba repot itu tidak melulu dimengerti sebagai situasi zaman, tapi sebagai kutukan zaman. Karena kutukan itu, segala niat yang luhur urung menjadi realitas. Dan pemimpin yang berniat mulia pun diselimpung oleh zaman dan menjadi ikut edan. Dengan kata lain, situasi repot ini bukan sekadar akibat dari ulah manusia yang tercels, tapi lebih-lebih adalah ekspresi dari kekuatan jahat yang sedang unjuk gigi. Kekuatan jahat itu tersembunyi, tapi terus beroperasi, membujuk dan menyeret manusia jatuh dalam kejahatannya.</p>
<p>Jelas keadaan demikian tak bisa diatasi dengan politik. Sebab akar permasalahannya bukan situasi sosial dan politik, tapi keruwetan batin manusia sendiri. Menurut tradisi Jawa, inilah saatnya kita harus menjadi seperti Semar. Sebab, seperti diyakini dalam kejawen, Semar iku asale saka basa samar, kang tegese ora samar ing umbak-umbuling lan wolak-walike jaman (Semar itu berasal dari samar, yang maksudnya tidak samar terhadap naik turun dan berubah-ubahnya zaman).</p>
<p>Memang Semar itu samar dari luar, tak jelas siapa dia, lelaki atau perempuan. Tapi dalam dirinya, ia menyimpan kejelasan manusia yang terdalam, yakni rasa eling lan waspada. Semar adalah kesadaran ilahi yang mengejawantah menjadi rasa eling yang manusiawi. Namun pada Semar, rasa eling manusiawi itu bukanlah kesadaran yang serba abstrak. Pada Semar, rasa eling itu menjadi konkret, yakni menjadi manusia dalam derajatnya yang terbawah: menjadi rakyat biasa.</p>
<p>Itu tidak berarti bahwa rakyat mempunyai kesadaran yang sempurna tentang segala-galanya. Tidak, justru sebaliknya, keadaan lahiriah mereka yang serba tidak sempurna adalah rasa, yang selalu meng-eling-kan mereka yang merasa diri sempurna, entah dalam pemikirannya entah dalam harta materialnya. Persis seperti Semar, yang terbilang buruk rupa karena dirinya hanyalah hamba, selalu meng-eling-kan bendara-nya, tuannya yang gagah, tam-pan, kaya, dan berkuasa. Jadi rasa eling yang ada pada rakyat itu dengan demikian bersifat sosial, atau lebih tepat bersifat sosial-kritis.</p>
<p>Karena itu, menurut filsafat Semar, jika rakyat masih miskin, maka mereka yang kaya harus eling bahwa kekayaan mereka tidaklah dibangun pada fundamen yang benar, karenanya juga akan mudah roboh dan sia-sia. Jika rakyat masih menderita karena ketidakadilan, maka mereka yang berleha-leha dengan harta berlimpah adalah penghina dan penista derajat manusia. Jika hak-hak rakyat masih tertindas, maka Para penguasa sesungguhnya hanyalah tiran yang kejam, betapapun mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik dan utama.</p>
<p>Begitulah, dengan di-dunung-i, atau dihuni oleh Semar, rakyat mentransendir keadaan dirinya, dan menjadi potensi yang menentang ketidakadilan, ketimpangan, dan kekuasaan yang sewenang-wenang. Rakyat lalu kembali menjadi bagian dari sejarah dan menentukan sejarah. Lebih dari itu mereka juga menjadi bagian dari kekuasaan, dan menjadikan kekuasaan bukan lagi melulu sebagai otoritas yang steril, tapi otoritas yang berhati, yang mampu menjalin manusia sate sama lain, dan lebih-lebih mampu merangkul mereka yang selama ini tersingkir dan terpinggirkan. Ya, bersama Semar, rakyat menjadi kekuatan yang akan memaksa kekuasaan untuk eling.</p>
<p>Menjadi Semar tidaklah mudah. Untuk menjadi Semar, penguasa harus berani nyuwungke atau mengosongkan diri dari se-gala nafsunya. Dalam bahasa kejawen, ia harus menempuh marga sunya untuk menuju sampuma. Dan pada Semar, jalan sunya atau pengosongan diri itu tidak ditempuh dengan menyepi atau samadi, tapi dengan menjadi kawula. Maka, penguasa yang ingin nyemar, menjadi Semar, tanpa berani merakyat, dan merasakan betul pahit dan susahnya penderitaan rakyat, ia hanya akan menemui kegagalan belaka.</p>
<p>Memang Semar itu nyata, senyata penderitaan rakyat. Karena itu, Semar tetap samar, jika ia hanya digembar-gemborkan sebagai visi politik yang pro-ekonomi kerakyatan dan antineoliberalisme. Maka, jangan mencari Semar dalam diri para pemimpin yang sedang mengobral janji. Se-mar tak usah dicari, ia sedang berada misalnya dalam isak tangis Sumariah, pedagang bakso, yang kehilangan anaknya tercinta, Siti Khoiyaroh (4 tahun), yang mati tersiram kuah bakso dan bara arang, saat hendak menyelamatkan diri dari kebrutalan Satpol PP Kota Surabaya. Dalam penderitaan dan jeritan rakyat semacam itulah Semar berada, bukan dalam pidato-pidato para calon presiden kita.</p>
<p><strong>SINDHUNATA</strong> <em>Budayawan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/kompas-minggu-7-juni-2009-isak-tangis-semar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intisari Juni 2009: Eksplorasi Semar F. Widayanto</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/intisari-juni-2009-eksplorasi-semar-fwidayanto</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/intisari-juni-2009-eksplorasi-semar-fwidayanto#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 04:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Penyuka patung keramik dapat dipastikan pernah mendengar tentang F. Widayanto, perupa lulusan ITB yang sudah bergelut dengan tanah liat selama 26 tahun. Tanggal 6 &#8211; 12 Juni 2009 ini akan digelar pameran tunggalnya bertajuk &#8220;Semarak 30 Semar&#8221; di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Perjumpaan dengan karya Widayanto umumnya diawali ketika kepala kita menoleh karena aura centil jahil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyuka patung keramik dapat dipastikan pernah mendengar tentang F. Widayanto, perupa lulusan ITB yang sudah bergelut dengan tanah liat selama 26 tahun. Tanggal 6 &#8211; 12 Juni 2009 ini akan digelar pameran tunggalnya bertajuk &#8220;Semarak 30 Semar&#8221; di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.</p>
<p>Perjumpaan dengan karya Widayanto umumnya diawali ketika kepala kita menoleh karena aura centil jahil karya-karyanya. Torehan, goresan, plintiran, bentukan jari-jemari Widayanto yang terampil, pewarnaan Berta pernak-pernik aksesorinya mampu menampilkan sosoksosok ekspresif yang selalu tampak tengah bergerak, entah dengan tangannya, dengan lirikannya, tertawa, atau menggoyangkan pinggul dengan genit. Begitu hidup sehingga patung-patung itu lebih tepat disebut &#8220;makhluk-makhluk&#8221; Widayanto. Maka yang terjadi, perjumpaan itu lebih terasa sebagai &#8220;sating pandang&#8221; antara mereka dengan penikmatnya.</p>
<p>Ambit contoh, ketika mengamati Semar God Will Do. Posisinya berbaring miring ke kiri, setengah tengkurap bertelekan kedua sikunya yang gemuk. Bulat perutnya menempel di &#8220;lantai&#8221; dan tengok wajahnya &#8230;. Kedua matanya tertutup, bibirnya menyungging senyum, sampai kedua pipi montoknya terangkat. Saking larutnya nyantai, , dua alisnya yang lebat terangkat sampai menampakkan kerut-merut  di sepanjang dahinya. Lalu Anda pun akan tak tahan bertanya diri, &#8220;Kapan terakhir saya mengalami nikmatnya rasa santai seperti ini?&#8221; Dua ekor merpati menggaris-bawahi kedamaian hati yang menyelimuti jagad &#8221; mikrokosmos Semar God Will Do.</p>
<p>Mengapa diberi Hama God Will Do, Widayanto punya sedikit penjelasan. Semar dalam mitologi Jawa menduduki posisi yang unik. Sosok sederhana ini sebenarnya lebih senior daripada semua dewa penghuni Jonggring Salaka. Kalau boleh diibaratkan dengan Sang Pencipta, &#8220;Saya suka ngebayangin, masa harus tuh kerja terus. Pasti beliau ada dong istirahatnya,&#8221; ujarnya santai.</p>
<h3>Di balik kesahajaan Semar</h3>
<p>Sebagai orang Jawa asli Betawi, Widayanto mengaku punya pendekatan spiritual yang santai. Dihayatinya kedekatan dengan Sang Mahakuasa tanpa merasa ada ancaman atau pemaksaan kehendak. Bahwa Semar menempati panggung yang  rada istimewa di alam budaya dan kesadaran orang Jawa, ternyata juga berlaku pada perupa ini, anak bungsu dari tiga bersaudara dari keluarga pasangan Prof. I.R. Poedjawijatna, dosen filsafat di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Soemarni. Masa kecil anak-anak mereka sering diisi dengan jeda pulang kampung, entah ke Solo&#8217; atau Klaten. Sekitar akhir tahun 1950-an &#8211; 1960-an, anak-anak Pak Poedjawijatna berkenalan dan mengakrabi wayang, menyimak lakon-lakon Wayang Purwa, Mahabharata, Barata Yudha, dan entah apa lagi.</p>
<p>&#8220;Sampai, ketika kakak-kakak saya sudah tak menyukai wayang lagi, saya terus rsaja suka,&#8221; tuturnya. Nyatalah bagi bocah Widayanto pesona wayang tak berhenti pada cerita. Setiap kali menonton matanya nanar menonton warna-warni dan lekak-lekuk kostumnya, sambil meresapi kedalaman karakterkarakternya dan menyerap filosofinya.</p>
<p>Dari Bapak juga Widayanto memahami betapa di balik figur sederhana nan bersahaja Semar tersembunyi kemewahaan dan kebesaran yang rendah hati. &#8220;Bapak menunjukkan kepada saya betapa dihormatinya Semar: manusia  yang sangat biasa itu memanggil Para dewa dengan namanya, sementara Para dewa menyapa dia dengan sebutan Kakang (k-kak). &#8221; Semar si abdi Pandawa itu, cukup dengan kentutnya bikin musuh pontang-panting. Di satu sisi wibawanya sanggup menundukkan Para dewa, tapi perilaku dan gayanya begitu santai. Semar (yang muncul hanya dalam pewayangan versi Jawa) ditugaskan turun ke Bumi untuk membimbing manusia. Mengayomi dunia. Buktinya, ia mengayomi dunia dalam kisah Harjuna Sasra di mana ia mengabdi pada Sumantri, sementara dalam kisah-kisah Ramayana, ia melindungi Hanuman. Kedua jalinan kisah tersebut meski tak ada hubungannya tetapi mempunyai kesamaan dalam peran Semar.</p>
<p>Ia dewa dengan wibawa besar, tapi ia juga rakyat jelata yang lucu dan santai. la Punakawan yang melayani, tapi kata-katanya juga di-gugu (dituruti) oleh Para raja dan bangsawan bahkan dewata. Semar selalu berada di antara dua kutub. </p>
<p>Dari situ asalnya nama &#8220;Semar&#8221; yang berasal dari kata smar (samar atau misteri). Pakar wayang Sri Mulyono, seperti dikutip oleh Susanto Pujo Sumarto, mengatakan, Semar adalah &#8220;samar, gaib, tak dapat dilihat dengan mata, tak dapat dirupakan, tak ada yang setara, tak ada persamaan apa pun dengan apa yang kelihatan di dunia ini.&#8221;</p>
<h3>Tanpa batas waktu dan wilayah</h3>
<p>Maka menjadi repot ketika Widayanto mulai tergelitik niatnya untuk mengolah tokoh Semar, menyusul suksesnya meluncukan Ganesha (1993). Ada yang nyeletuk bilang, &#8220;Bikin Semar dong!&#8221; Naluri perupanya segera menyadari tidak mudah menemukan bentuk Semar yang serba &#8220;Samar&#8221; ini, sampai pencariannya mulai mendapat jawaban dalam wayang ukur ciptaan Ki Sukasman.</p>
<p>Kesan mendalam terutama ditangkapnya dari sosok Gareng versi Sukasman. Kecacatan tubuh Gareng, yang kakinya serba bengkok itu justru dipakai oleh Sukasman sebagai kekuatan yang tampil dramatis. Dalam Seri wayang ukur buatan Sukasman, Semar pun ditampilkan dengan bermacam-macam ekspresi tanpa meninggalkan peran universal Semar: mengabdi, bersahaja, memimpin tanpa menggurui.</p>
<p>Wayang ukur ala Sukasman membantu mengkristalkan sosok Semar yang akan lahir dari proses kreativitas Widayanto. Bahwa Semarnya haruslah tanpa batas waktu dan wilayah. Ciri-ciri fisik Semar yang akan dipertahankannya: mata beyes (berair), jambul, pusar bodong, muka pucat. Beberapa simbolisasi juga dipertahankannya: subang berbentuk cabal (karena Semar selalu siap mendengarkan yang pedas-pedas) di telinganya, mulut yang sering kali mengulum batu kristal (karena bobot kata-katanya yang bermakna dalam) inspirasi tubuh montok yang sehat dipetiknya dari mengamati bentuk tubuh bayi dan pesumo Jepang.</p>
<h3>Salvador Dali sampai Zeus</h3>
<p>Tahun 2007 mulailah Semar-Semar Widayanto menjelma. Diawali dari sketsa, untuk setiap karya Semar disediakan 20 -30 kg tanah liat dari Sukabumi. Asisten mempersiapkan dulu konstruksi dasarnya (base). Disiapkan juga partisi-partisi dari konstruksi tanah di dalam base itu sebagai tulangan. Kemudian ia mulai membuat bentuk kasarnya. Dalam waktu sekitar dua minggu patung itu dibiarkan lebih menguat untuk kemudian dibelah dan dikerok bagian dalamnya. Lalu oleh asisten, parung direkatkan kembali sehingga terbentuk konstruksi patung berongga dengan ketebalan sama.</p>
<p>Selama dua minggu berikutnya patung diperhalus. Bentuk akhir dipastikan. Selama satu bulan patung kemudian dibiarkan mengering dengan diangin-anginkan. Setelah itu baru dibakar di tungku pembakaran dengan suhu 1.290° C. Sebuah proses yang membutuhkan kecermatan luar biasa. Di tahap ini patung dalam posisi khusus perlu dipotong dulu pada bagian-bagian tertentu supaya dapat masuk ke dalam tungku, untuk nantinya disambung lagi dengan konstruksi kayu. Setelah itu dibubuhkan glasir dan &#8220;kosmetika&#8221; sebagai sentuhan akhir. Ini saatnya memastikan kain sarung tampak luwes menjuntai, lipatannya wajar sehingga pemerhatinya lupa bahwa yang dilihatnya bukan kain tapi batu lempung. Guratan senyumnya bisa jenaka, tertawanya renyah, atau nyengir sinis.</p>
<p>Setelah melewati proses selama tiga bulan, maka jadilah Mripat Beyes, patung dengan tinggi 74 cm, lebar 52 cm dan panjang 62 cm. Kemudian menyusul Step 2 Hvn, Sleepless Batara, Moody Blue, Ayoming Jagad, dst. Beberapa jelas-jelas dipetik dari karya klasik mancanegara, seperti The Thinker karya legendaris pematung Prancis Rodin. Tanpa sungkan ia mnemposisikan Semar sebagai Dewa Zeus dalam Zeus Mar. Dali Mania menampilkan Semar sebagai Salvador  Dali, lengkap dengan atribut paler dengan cat meleleh, mata nyalang jelalatan, sambil memilin kumis caplang.</p>
<p>Dari ke tiga puluh karyanya, separuh sudah dipesan jauh sebelum pameran digelar. Namun perupa yang tetap disiplin dan gesit di usia 56 tahun ini mengaku tak terlalu pusing apakah semua karyanya akan habis terjual atau tidak. &#8220;Yang penting saya puas telah menciptanya,&#8221; katanya. Akankah Semar jadi puncak kiprahnya sebagai perupa? &#8220;Saya tidak tahu. Saat puncak pencapaian seorang perupa akan ditentukan oleh orang lain. Saya sendiri takkan berhenti bereksplorasi.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/intisari-juni-2009-eksplorasi-semar-fwidayanto/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IDEA Majalah 65/VI/2009: Semarak Semar</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/idea-majalah-65vi2009-semarak-semar</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/idea-majalah-65vi2009-semarak-semar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 04:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[SEMAR sepanjang zaman dan bagi semua bangsa. Begitu kata keramikus F. Widayanto. Semar sebagai tokoh wayang asli Indonesia dikonsepkan sebagai rakyat biasa, sang Penasehat, juga seorang yang diagungkan.
Semar dipilih sebagai tema pameran tunggal Widayanto ke-13 bertajuk &#8220;Semarak 30 Semar&#8221;. Memang ada 30 patung Semar dari bahan tanah liat dilengkapi gunungan tembaga dan alas kayu ma¬honi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEMAR sepanjang zaman dan bagi semua bangsa. Begitu kata keramikus F. Widayanto. Semar sebagai tokoh wayang asli Indonesia dikonsepkan sebagai rakyat biasa, sang Penasehat, juga seorang yang diagungkan.</p>
<p>Semar dipilih sebagai tema pameran tunggal Widayanto ke-13 bertajuk &#8220;Semarak 30 Semar&#8221;. Memang ada 30 patung Semar dari bahan tanah liat dilengkapi gunungan tembaga dan alas kayu ma¬honi, yang dipamerkan. Karya tersebut diberi sentuhan berbagai budaya serta nuansa segar clan jenaka, serta sarat unsur kekinian dan masa depan. Kisaran harganya Rp85juta-Rp130juta.</p>
<p>Patung Semar yang unik itu cocok ditempatkan di berbagai ruang, kecuali di dapur dan kamar mandi. &#8220;Sebaiknya beri tempat dengan cahaya khusus dan level yang pas,&#8221; kata Widayanto. Sebagian gaya Semar itu dapat Anda nikmati di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/idea-majalah-65vi2009-semarak-semar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Femina 6-12 Juni 2009: Semar</title>
		<link>http://fwidayanto.com/artikel/majalah-femina-6-12-juni-2009-semar</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/artikel/majalah-femina-6-12-juni-2009-semar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 04:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata, Semar bukan monopoli etnis Jawa. Bahkan, tokoh wayang yang bijaksana ini bisa muncul dalam gaya Cina dan Yunani.
FIGURINE ATAU PATUNG SOSOK SEMAR dalam khasanah seni keramik bukan hal baru di Indonesia. Paling tidak, sejak lama kita mengenal keramik terakota berbentuk celengan Semar. Sosok tokoh pewayangan kelahiran Indonesia ini memang sangat populer dalam budaya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata, Semar bukan monopoli etnis Jawa. Bahkan, tokoh wayang yang bijaksana ini bisa muncul dalam gaya Cina dan Yunani.</p>
<p><em>FIGURINE</em> ATAU PATUNG SOSOK SEMAR dalam khasanah seni keramik bukan hal baru di Indonesia. Paling tidak, sejak lama kita mengenal keramik terakota berbentuk celengan Semar. Sosok tokoh pewayangan kelahiran Indonesia ini memang sangat populer dalam budaya dan filosofi etnis-etnis di Pulau Jawa. Popularitas itu pula yang mendorong perajin tembikar F. Widayanto (56) tergerak untuk mengangkatnya sebagai model <em>figurine</em> dalam pameran tunggalnya yang ke-13 di Galeri Nasional Indonesia Jakarta 5 &#8211; 12 Juni 2009.</p>
<p>Diresmikan Gubernur DKI Jakarta, <strong>Fauzi Bowo</strong>, <strong>Widayanto</strong> memajang 30 buah <em>figurine</em> (plus belasan karya relief) Semar pada pameran bertajuk <em>Semarak 30 Semar</em> itu. Di tangannya, Semar tampil tak sekadar sebagai Ki Lurah Badranaya (punakawan Pandawa Lima dalam dunia pewayangan), tetapi juga dalam berbagai pengejawantahan lain yang <em>go international</em>. Sebut misalnya karya <em>Emperor of the East</em> dan <em>Ni How</em> yang mengungkap Semar dalam `kostum&#8217; nya Kaisar Cina, Zeus Mar, yang mengingatkan kita pada sosok Dewa Zeus, ataupun The Champ yang mcnampilkan Semar dalam gaya atlet lempar cakram di zaman Yunani kuno.</p>
<h3>TOKOH JADI INSPIRASI UTAMA</h3>
<p>Sebagai perajin tembikar.Widayanto memang dikenal dengan karya- karya figurine. Dari 13 kali berpameran tunggal, cuma pada pameran <em>Wadah Air</em> (pameran tunggal pertama, 1987), <em>Topeng</em> (1990), <em>Kendi- Kendi</em> (2000), dan <em>Keramik Inspiration</em> (2001) yang tak menampilkan seri <em>figurine</em>. Dari pameran <em>Loro Blonyo</em> (1990) yang terinspirasi sosok model pengantin Jawa, hingga pameran Narcissuss-Narcissuss setahun yang lalu, semua berupa karya figurine. </p>
<p>Sebagaimana tampak pada seri Semar, karya figurine Widayanto selalu diungkap dengan semangat baru, yang dieksplorasi lewat fan¬tasi artistik dengan tampilan modern dan <em>extravaganza</em>. Kita ingat, misalnya, saat ia berpameran <em>Ganesha-Ganeshi</em> (1993) yang awalnya terinspirasi pada lambang Institut Teknologi Bandung (almamater Widayanto). <em>Figurine</em> Ganesha dan Ganeshi (berawal dari sebutan bagi calon mahasiswi ITB di saat inisiasi) tampil cantik dan molek, diimbuhi motif-motif daun dan hewan (kadal, kupu-kupu, capung, tawon, dan kodok). Motif hewan ini kemudian menjadi ikon tembikar Widayanto.</p>
<p>Demikian pula saat ia menggelar pameran <em>Ukelan</em> (1995) yang terinspirasi dari <em>hairdo</em> atau seni gelung rambut wanita di masa Majapahit. Berbagai figurine wanita tampil seksi dengan ragam model gelung rambut, yang rasanya memang masih terus menginspirasi model gelung rambut dalam acara-acara resmi wanita masa kini. Tak hanya di Indonesia, bahkan di berbagai belahan dunia. Aksesori dari bahan logam tampak kian mewarnai karya-karya tembikar Widayanto sejak periode ini.</p>
<p>Wanita dan hajat hidup yang melingkupinya, banyak menginspirasi Widayanto dalam berkarya tahun 2000 misalnya, ia menggelar pameran <em>Ibu dan Anak</em>. Kita tahu, hubungan hakiki antara ibu dan anak diawali dari saat seorang wanita hamil, lalu melahirkan dan mengasuh sang anak, antara lain dengan memberinya ASI. Di tangan Widayanto, lagi-lagi ritual alam ini mtampil dengan eksotis. <em>Figurine-figurine</em> wanita matang tampil menyusui bayinya dalam berbagai gaya. Tak ada (idealnya) scoring ibu yang enggan memberi ASI pada bayinya, sesibuk dan sehebat apapun wanita itu. Begitu kritik yang hendak disampaikan Widayanto lewat pamerannya itu.</p>
<p><em>Dewi Sri</em> (2003) dan <em>Fan-tastic lady</em> (2005) adalah pameran Widayanto lain yang terinspirasi dari legenda tentang wanita. Dewi Sri melegenda sebagai Dewi Padi, ikon wanita welas asih dan cendekia dalam mitologi di berbagai budaya di Indonesia. Ia menginspirasi Widayanto untuk melahirkan karya tembikar figurine yang mendunia.</p>
<p>Unsur kewanitaan juga tampak saat ia menggelar pameran Narcissus-Narcissus pada tahun 2007. Inspirasinva didapat dari fenomena pria pesolek dari masa ke masa di berbagai belahan wilayah budaya, hingga ia kemudian melahirkan karya-karya tembikar <em>figurine</em> kontemporer yang menggelitik.</p>
<h3>SUARA RAKYAT KECIL</h3>
<p>Gagasan kontemporer dalam seni itu sendiri sebenarnya juga bukan hal baru di Indonesia. Dalam khazanah seni wayang misalnya. terhitung sejak <strong>Mpu Sendok</strong> menuliskan babad Ramayana dan Mahabharata pada sekitar abad ke-8, lahirlah kisah-kisah karangan (yang tak ada dalam kisah asal India itu), yang memperkaya kedua babad kisah asal India tersebut. Bahkan, pemikir seni wayang Indonesia itu juga mampu inclahelahirkan tokoh-tokoh baru yang tak dikenal dalam kedua babon atau patron cerita wayang tersebut.</p>
<p>Salah satu tokoh fenomenal itu adalah Semar, yang konon tercipta dari putih telur. Di kalangan masyarakat jawa, tokoh Semar menduduki tempat sangat terhormat. Menurut filosofi Jawa, Semar itu bukan pria, bukan wanita, tetapi juga bukan banci. Semar tidak tua juga tidak muda. Tak sedih, tak juga gembira. Posisinya selalu `di antara&#8217; dan samar-samar. Itu sebabnya, ia disebut Semar. Dalam hierarki pewayangan, Semar adalah dewa yang mengejawantah, yakni dewa yang mengubah wujud dirinya sebagai manusia di dunia.Yang paling sering, Semar ditampilkan sebagai lurah yang bertugas memberi <em>pitutur</em> (nasihat), bertindak sebagai pamomong (pembimbing), dan pengayom masyarakat. Meski begitu, Semar sangat dihormati, bahkan oleh para dewa, yang selalu menyebut dirinya sebagai Kakang Semar.</p>
<p>Cuma Semar yang berani ngomong dalam bahasa ngoko (bahasa dalam tingkat paling rendah) kepada para dewa. Bahkan, cuma Semar yang berani memanggil dewa dengan namanya saja. Semar merupakan lambang kebenaran hakiki. Keberpihakan Semar meru¬pakan jaminan kemenangan dan keselamatan rakyat banyak. Kata-katanya adalah suara <em>grass root</em>, suara <em>Wong cilik</em>, rakyat kecil, suara hati manusia yang asasi.</p>
<p>Terinspirasi tokoh populis yang tak pernah tertarik pada kekuasaan itu, Widayanto menggarap seri figurine Semar. &#8220;Semar itu sosok yang tidak mengancam, tidak memaksakan kehendak. Hidupnya relaks, santai, dan selera humornya tinggi ungkapnya. Relaks di sini tak berarti melecehkan dan merendahkan, tetapi besar-besar akrab sebagai sang pengayom. Dalam memberi nasihat pun, Semar sangat santai, tidak dengan kekerasan, tidak menggurui, senantiasa meng¬gunakan bahasa sederhana yang mudah dicerna oleh semua orang, juga dalam suasana yang menyenangkan dan jenaka.</p>
<p>Semua itu diungkap Widayanto dalam karya-karya Semar-nya yang seperti biasa diimbuhi judul-judul jenaka dan menggelitik. Ia menggunakan campuran bahasa Jawa, Inggris, bahkan Cina. Semisal, <em>Mripat Beyes</em>, <em>Sleepless Batara</em>, <em>Bloody Blue</em>, <em>Ayoming jagad</em>, <em>Ni How</em>, <em>Lost Kutut</em>, <em>Think S&#8217;mar</em>, <em>Tumaritis Dream</em>, dan <em>Super Semar</em>.</p>
<p>Melalui karya-karyanya ini, Widayanto ingin menampilkan tokoh Semar dalam suasana segar, jenaka, tetapi sarat dengan unsur kekini¬an dan masa depan. Semar adalah tokoh segala masa. Semar memang sosok samar-samar. Simbol kebaikan yang mudah dipahami dan dimengerti siapa pun dan di mana pun, sepanjang masa.</p>
<p><strong>HERYUS SAPUTRO</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/artikel/majalah-femina-6-12-juni-2009-semar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentara Budaya Solo</title>
		<link>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-solo</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-solo#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 09:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[07 Jun &#8211; 07 Jun 2009
Ngudarasa Sastra
06 Jun &#8211; 07 Jun 2009
Pemutaran Film: Satir Politik
14 Jun &#8211; 23 Jun 2009
Seminar dan Pameran Seni Rupa: “Wong Jawa Ilang Jawane”
27 Jun &#8211; 27 Jun 2009
Diskusi Panel Perkotaan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>07 Jun &#8211; 07 Jun 2009</strong><br />
Ngudarasa Sastra</p>
<p><strong>06 Jun &#8211; 07 Jun 2009</strong><br />
Pemutaran Film: Satir Politik</p>
<p><strong>14 Jun &#8211; 23 Jun 2009</strong><br />
Seminar dan Pameran Seni Rupa: “Wong Jawa Ilang Jawane”</p>
<p><strong>27 Jun &#8211; 27 Jun 2009</strong><br />
Diskusi Panel Perkotaan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-solo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentara Budaya Yogyakarta</title>
		<link>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-yogyakarta</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-yogyakarta#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 09:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[02 Jun &#8211; 11 Jun 2009
PAMERAN LUKISAN PLUS-MINUS
14 Jun &#8211; 21 Jun 2009
PAMERAN SENI SERAT &#8220;TEXT &#8211; TILE&#8221;
15 Jun &#8211; 16 Jun 2009
Bentara Putar Film: Film Satir Politik
17 Jun &#8211; 17 Jun 2009
DISKUSI SENIRUPA “MEMBACA KARYA ERICA”
23 Jun &#8211; 03 Jul 2009
SENIRUPA RAI GEDHEG
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>02 Jun &#8211; 11 Jun 2009</strong><br />
PAMERAN LUKISAN PLUS-MINUS</p>
<p><strong>14 Jun &#8211; 21 Jun 2009</strong><br />
PAMERAN SENI SERAT &#8220;TEXT &#8211; TILE&#8221;</p>
<p><strong>15 Jun &#8211; 16 Jun 2009</strong><br />
Bentara Putar Film: Film Satir Politik</p>
<p><strong>17 Jun &#8211; 17 Jun 2009</strong><br />
DISKUSI SENIRUPA “MEMBACA KARYA ERICA”</p>
<p><strong>23 Jun &#8211; 03 Jul 2009</strong><br />
SENIRUPA RAI GEDHEG</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/agenda/bentara-budaya-yogyakarta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELASAR SUNARYO Art Space BANDUNG</title>
		<link>http://fwidayanto.com/agenda/selasar-sunaryo-art-space-bandung</link>
		<comments>http://fwidayanto.com/agenda/selasar-sunaryo-art-space-bandung#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 09:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwidayanto.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[May 29th &#8211; June 21st, 2009
Isa Perkasa Solo Exhibition – Ingatan Yang Diseragamkan
Artist Talk
June 5th, 2009 &#124; 3.00 PM
Speaker: Isa Perkasa, Aminudin TH Siregar
May 28th &#8211; June 30th, 2009
SSAS Permanent Collections Exhibition
Featured artists:
Sunaryo, Diddo Kusnidar, T. Sutanto, Srihadi Sudarsono, Tisna Sanjaya, Yusuf Affendi, Umi Dachlan, Erna G. Pirous, Haryadi Suadi, Diyanto, Iman Sapari, Arin Dwi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>May 29th &#8211; June 21st, 2009</strong><br />
Isa Perkasa Solo Exhibition – Ingatan Yang Diseragamkan<br />
Artist Talk<br />
June 5th, 2009 | 3.00 PM<br />
Speaker: Isa Perkasa, Aminudin TH Siregar</p>
<p><strong>May 28th &#8211; June 30th, 2009</strong><br />
SSAS Permanent Collections Exhibition<br />
Featured artists:<br />
Sunaryo, Diddo Kusnidar, T. Sutanto, Srihadi Sudarsono, Tisna Sanjaya, Yusuf Affendi, Umi Dachlan, Erna G. Pirous, Haryadi Suadi, Diyanto, Iman Sapari, Arin Dwi Hartanto Sunaryo, Siswadi Djoko, Asmudjo Jono Irianto, Kiki Rizki SP, Satyagraha, Tina Nuraziza, Rita Widagdo, Rina Wayanti, Popo Iskandar, Mochtar Apin, (alm.)Hendarawan Riyanto, R.E. Hartanto.<br />
Venue: Gallery B<br />
Open: Tuesday &#8211; Monday | 10.00 AM &#8211; 5.00 PM</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwidayanto.com/agenda/selasar-sunaryo-art-space-bandung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
