Media Indonesia Minggu 14 Juni 2009: Rupa Semar di Era Modern
Ia Buddha, dirinya Zeus, ia seorang binaragawan, dan dialah Raja Romawi.
Itulah Semar, hasil karya imajinasi F. Widayanto. Dalam mitologi Jawa, Semar disebut Badranaya, yang identik dengan tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang.
Namun dalam benak pikiran Widayanto, Semar harus untuk segala masa, segala bangsa, dan segala budaya serta tetap aktual dan hidup. Filosofinya bisa masuk ke mana dan kapan saja, tanpa tergerus oleh zaman.
Meski Semar itu serba di antara, tidak jelas atau samar-samar dari luar antara sedih atau gembira, laki-laki atau perempuan, anak-anak ataupun sudah tua.
Namun dalam diri Semar, bagaimanapun Widayanto melukisnya pada keramik dalam berbagai gaya dan aksesori yang dikenakan, ia tetap memiliki karisma yang kuat untuk memberi teladan agar selalu ingat kepada Sang Pencipta, menyayangi sesama umat, serta menegakkan kebenaran dan keadilan di bumf. Di zaman serba rumit dan ‘edan’ ini lah dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengarahkan dan membimbing rakyatnya ke jalan yang benar.
“Semar menjadi seorang pamong kang sepi ing pamrih, rame ing gawe (pamong yang bekerja tanpa pamrih). Ini mengingatkan para pemimpin bangsa saat ini agar lebih memperhatikan nasib rakyatnya yang sedang susah,” kata Widayanto.
Alasan inilah yang membuat Widayanto untuk mengangkat sosok Semar. Sebab, seperti diyakini dalam kejawen, inilah saatnya kita harus menjadi seperti Semar.
Karakteristik Semar inilah yang terlihat dalam pameran tunggal karya F. Widayanto yang bertajuk Semarak 30 Semar. Acara ini berlangsung pada 5-12 Juni di Galeri Nasional Indonesia mulai pukul 10.00-19.00.
Dalam pameran itu, pengunjung akan menikmati 30 buah keramik Semar dengan berbagai wujud dan rupa. Seperti Semar Dewa Yunani, Menyapa (Nihow), Yesus (King of King), The Camp, Badranaya Sang Hyang, dan God Will Do.
Menurut Widayanto, konsep pameran ini mengandung dua misi yakni pemimpin yang baik dan penggembira masyarakat di tengah krisis. “Semar yang saya tampilkan adalah semar segala cuaca, baik panas maupun hujan. Sosok Semar diyakini akan tetap eksis,” kata Widayanto.
Meskipun kreativitas mewarnai wujud Semar karya Widayanto, ciri khas tidak ditanggalkan begitu saja. Tanda-tanda Semar seperti subang ‘Lombok’, ‘mripat beyes’ (mata berair) masih dipertahankan.
Salah satu ciri khas yang paling menonjol pada Semar karya Widayanto adalah jambul atau kuncungnya. Dirinya merancang kuncung pada sosok Semar begitu extravaganza, memberi kesan sang pemimpin yang berwibawa, namun tetap rendah hati.
Dalam tokoh pewayangan, Semar merupakan sosok yang jujur, sederhana, eling, dan waspada. Pemilihan tokoh Semar sebagai bentuk kritik dan kepedulian terhadap situasi dunia.
Proses pembuatan keramik Semar ini sendiri membutuhkan proses yang memakan waktu. Hal ini disebabkan kebutuhan akan pendalaman karakter Semar itu sendiri. (*/M-4)
This entry was posted on Thursday, June 18th, 2009 at 5:16 am and is filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
0 people were on discussion.
Everyone have their own opinion about anything. Let start the discussion, add yours.