Koran Tempo Rabu 10 Juni 2009: Semar ‘Wangi’ Made in Tapos
Semar itu demikian eksotis. Perut “burayut”-nya (buncit) begitu menonjol ke depan. Ia bersandar pada pilar batu hitam penuh bunga. Tangan kirinya memegang “tongkat kebesaran” berhiaskan kuncup bunga. Selendang mayangnya berwarna biru bertaburkan motif kupu-kupu. Ia mengenakan kain batik hijau motif kuwung. Meski kainnya telah dililit ikat pinggang kulit, mungkin karena takut melorot ke bawah, ujung kain itu dipegang jempol dan jari manisnya.
Itulah salah satu keramik Semar bertitel King of King buatan “keramikus” F. Widayanto, yang dipamerkan di Galeri Nasional. Widayanto menampilkan 30 patung Semar dengan berbagai ekspresi tingkah, dari Semar leyeh-leyeh sampai Semar tidur sore-sore. Kulit Semar rata-rata putih, tidak cokelat-kehitaman seperti gambaran Semar di wayang kulit atau golek.
Hampir semua perut buncit Semar berhiaskan berbagai corak dan warna, seperti bunga, daun, ilalang, naga, dan kupu-kupu. Beberapa corak pada perut Semar mengingatkan kita pada aneka motif tato. Di tangan Widayanto, Semar yang seperti rakyat jelata, dipreteli unsur filosofisnya, menjadi wangi dan perlente.
Melihat patung-patung Semar itu, orang bisa ingat berbagai variasi patung-patung Buddha tertawa. Di kalangan penganut Buddha tertentu dikenal Maitreya atau Buddha masa depan. Sosoknya berupa seorang biksu gendut tertawa sembari membawa kantong kain besar. Biksu itu selalu gembira. Patungpatungnya, sering dengan berbagai variasi, mengekspresikan keriangan dengan perut buncit terbuka. Perut buncitnya mirip perut buncit Semar ala Widayanto. Bedanya, ia tetap kelihatan sederhana dan kainnya tidak penuh hiasan. Sedangkan Semar garapan Widayanto begitu mewah. Semar di tangan Widayanto jadi molek dan kenes. Lihatlah patung bertajuk Super Semar. Perut buncitnya bergambar naga. Ia mengenakan selendang mayang terbuat dari “kulit beruang” lengkap dengan kepala dan kuku tajamnya. Tali celana dalamnya berhiaskan tas corak bunga lengkap dengan kupu-kupunya. Tongkat kebesarannya berbahan logam bercorak dua katak duduk di bunga teratai bertaburkan rumput ilalang.
Semua keramik Semar itu dibuat Widayanto di dapur produksinya di kawasan Tapos, Ciawi, Bogor Lokasi dapur keramik PT Widayanto Citra Tembikarindo itu sekitar 9 kilometer dari perempatan Ciawi Kabupaten Bogor—posisinya persis di bawah peternakan sapi Tapos milik keluarga Cendana. Di lahan seluas 1,6 hektare milik Widayanto itu terdapat “dapur” keramik seluas 300 meter persegi dengan tiga tungku besar. Di ruang inilah Widayanto membuat ke-30 Semar karyanya. “Selama dua tahun, saya hanya sanggup membuat 30 Semar. Mungkin karena sudah capek,” kata alumnus jurusan keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung tahun 1981 itu.
Widayanto menceritakan, mulanya ia kesulitan memunculkan karakter kuat sosok Semar. Namun, setelah satu karya dihasilkan, barulah ide selanjutnya mengalir. Menurut Widayanto, untuk menghias Semarnya, ide datang dari berbagai sosok. Seperti karyanya, Zeus Mar, yang menampilkan sosok Semar bergaya Dewa Zeus. Di perut buncitna, ia menato sosok khas Romawi, dan pada kelat bahunya, ia torehkan hiasan Raja Romawi. Ada-pun selendang mayang juga ia buat seperti selendang yang dikenakan raja-raja Romawi. Yang menarik adalah satu karyanya yang mengambil inspirasi dari sosok Slamet Gundono. Dalang tambun asal Tegal itu dikenal senang memainkan ukulele. Widayanto membuat patung Semar bermain ukulele dan di bahu kanannya ads seekor burung garuda mengepakkan sayapnya ikut bernyanyi. Mats Semar tampak kaget melirik ke arah burung itu. “Slamet Gundono lucu saat bernyanyi,” Widayanto berkomentar.
DEFFAN PURNAMA | SENO JOKO SUYONO
This entry was posted on Thursday, June 18th, 2009 at 5:10 am and is filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
0 people were on discussion.
Everyone have their own opinion about anything. Let start the discussion, add yours.