Ki Semar dari Dapur Tembikar
Gara-gara mencari ide siapa Semar itu, F Widayanto seperti biasanya menjadi blingsatan, dia senang bertanya ke kanan dan kiri, ke kawan dan rekan ngobrolnya untuk memancing keluarnya ide tambahan, perihal siapa Semar – tokoh wayang tradisional Jawa yang bagi kebanyakan orang, hanyalah berwujud sesosok lelaki berbadan terokmok, serta memiliki anak-anak bernama Petruk, Gareng dan lainnya yang juga berwujud aneh, bersosok dan berparas muka tidak umum.
Kalau sudah terangsang gagasan untuk bikin ini atau itu, artinya Yanto setiap hari pikirannya hanya tertuju soal “bikin ini itu” saja. Misalnya zaman tahun 1992, saatnya lagi bernas-bernasnya gagasan Yanto membentuk Ganesha yang sosok dewa berbadan manusia campuran bentuk gajah. Memang sejak tahun 1987, beberapa tahun setelah lulus pada tahun 1981 sebagai keramikus atau perupa seni tembikar dari Jurusan Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Yanto sudah masih menjejak tapak seni rupanya, khusus sebagai perupa dan pembentuk benda seni berbahan “tanah air” alias tembikar.
Sebagai perupa bentuk tembikar, Widayanto selalu mengaku dirinya bersubsidi uang kuliah, karena bakatnya sejak muda berwirausaha. “Gue zaman kuliah, dulu demen banget bikin baju berbahan kain belacu dengan kancing batok kelapa. Juga memelihara anjing dobermann atau tekel. Selain hobi ternyata anjing pun bisa menjadi sumber pemasukan uang untuk tambahan biasa transpor Jakarta-Bandung,” ucapnya suatu ketika, ketika mengenang zamannya mengendarai sepeda motor besar trip Setiabudi – ITB ulang-alik.
”Zaman itu dengan genk gue, kami bikin grup bintes alias bimbingan tes untuk calon mahasiswa peminat masuk ke ITB. Grup itu sempat ngetop, namanya Spektra alias Sepuluh Pemuda Keren tapi Rada Acuh he he, itu serius tauuk. Itu bimbingan tes gratis, gue gak dapet apa-apa, paling nampang dan cari kecengan he he!” Katanya mesem-mesem. Namun Yanto makin tersipu-sipu, saat melihat karya kartu natal dan tahun baru bikinan goresan tangannya tahun 1980-an. ”Eh iya, itu bikinan gue, kalian dapet di mana? Kartu itu buat cari duit bensin ha-ha.”
Rahasia Widayanto sejak muda sudah bisnis, hal itu bukan rahasia dapurnya. Yanto di tengah tahun 1980-an saja, sudah berani buka semacam galeri di Duta Merlin di Jalan Gajah Mada yang masa itu terkenal sebagai pusat jual-beli komoditas keren, sebelum adanya gedung mal atau sejenis plasa-plasa. Di galerinya terpajang benda tembikar atau stoneware yang saat itu masih barang langka. Salah satu yang mencolok perhatian pengunjung, karena Yanto menjual bentuk-bentuk kendi dan wadah air, sebagai benda seni bukan benda fungsional macam teko atau bejana.
Karyanya mulai merembes perhatian pencinta seni rupa, khususnya seni rupa berbahan tembikar yang bukan beling atau porselen. ”Wadah Air” pun menjadi tema pameran formalnya di Erasmus Huis, pada tahun 1987. Aneka wadah air atau water vessel yang bejana air, biasanya merupakan benda pakai meja dan dapur, kini Yanto menghadirkannya menjadi benda seni bermakna pajangan dan penghias untuk desain interior. Dari pameran formal pertamanya itu, Yanto yang ”keramikus” mulai mencuri pandangan beberapa pemerhati benda seni rupa.
This entry was posted on Thursday, May 28th, 2009 at 5:20 pm and is filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
0 people were on discussion.
Everyone have their own opinion about anything. Let start the discussion, add yours.