Intisari Juni 2009: Eksplorasi Semar F. Widayanto
Penyuka patung keramik dapat dipastikan pernah mendengar tentang F. Widayanto, perupa lulusan ITB yang sudah bergelut dengan tanah liat selama 26 tahun. Tanggal 6 – 12 Juni 2009 ini akan digelar pameran tunggalnya bertajuk “Semarak 30 Semar” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Perjumpaan dengan karya Widayanto umumnya diawali ketika kepala kita menoleh karena aura centil jahil karya-karyanya. Torehan, goresan, plintiran, bentukan jari-jemari Widayanto yang terampil, pewarnaan Berta pernak-pernik aksesorinya mampu menampilkan sosoksosok ekspresif yang selalu tampak tengah bergerak, entah dengan tangannya, dengan lirikannya, tertawa, atau menggoyangkan pinggul dengan genit. Begitu hidup sehingga patung-patung itu lebih tepat disebut “makhluk-makhluk” Widayanto. Maka yang terjadi, perjumpaan itu lebih terasa sebagai “sating pandang” antara mereka dengan penikmatnya.
Ambit contoh, ketika mengamati Semar God Will Do. Posisinya berbaring miring ke kiri, setengah tengkurap bertelekan kedua sikunya yang gemuk. Bulat perutnya menempel di “lantai” dan tengok wajahnya …. Kedua matanya tertutup, bibirnya menyungging senyum, sampai kedua pipi montoknya terangkat. Saking larutnya nyantai, , dua alisnya yang lebat terangkat sampai menampakkan kerut-merut di sepanjang dahinya. Lalu Anda pun akan tak tahan bertanya diri, “Kapan terakhir saya mengalami nikmatnya rasa santai seperti ini?” Dua ekor merpati menggaris-bawahi kedamaian hati yang menyelimuti jagad ” mikrokosmos Semar God Will Do.
Mengapa diberi Hama God Will Do, Widayanto punya sedikit penjelasan. Semar dalam mitologi Jawa menduduki posisi yang unik. Sosok sederhana ini sebenarnya lebih senior daripada semua dewa penghuni Jonggring Salaka. Kalau boleh diibaratkan dengan Sang Pencipta, “Saya suka ngebayangin, masa harus tuh kerja terus. Pasti beliau ada dong istirahatnya,” ujarnya santai.
Di balik kesahajaan Semar
Sebagai orang Jawa asli Betawi, Widayanto mengaku punya pendekatan spiritual yang santai. Dihayatinya kedekatan dengan Sang Mahakuasa tanpa merasa ada ancaman atau pemaksaan kehendak. Bahwa Semar menempati panggung yang rada istimewa di alam budaya dan kesadaran orang Jawa, ternyata juga berlaku pada perupa ini, anak bungsu dari tiga bersaudara dari keluarga pasangan Prof. I.R. Poedjawijatna, dosen filsafat di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Soemarni. Masa kecil anak-anak mereka sering diisi dengan jeda pulang kampung, entah ke Solo’ atau Klaten. Sekitar akhir tahun 1950-an – 1960-an, anak-anak Pak Poedjawijatna berkenalan dan mengakrabi wayang, menyimak lakon-lakon Wayang Purwa, Mahabharata, Barata Yudha, dan entah apa lagi.
“Sampai, ketika kakak-kakak saya sudah tak menyukai wayang lagi, saya terus rsaja suka,” tuturnya. Nyatalah bagi bocah Widayanto pesona wayang tak berhenti pada cerita. Setiap kali menonton matanya nanar menonton warna-warni dan lekak-lekuk kostumnya, sambil meresapi kedalaman karakterkarakternya dan menyerap filosofinya.
Dari Bapak juga Widayanto memahami betapa di balik figur sederhana nan bersahaja Semar tersembunyi kemewahaan dan kebesaran yang rendah hati. “Bapak menunjukkan kepada saya betapa dihormatinya Semar: manusia yang sangat biasa itu memanggil Para dewa dengan namanya, sementara Para dewa menyapa dia dengan sebutan Kakang (k-kak). ” Semar si abdi Pandawa itu, cukup dengan kentutnya bikin musuh pontang-panting. Di satu sisi wibawanya sanggup menundukkan Para dewa, tapi perilaku dan gayanya begitu santai. Semar (yang muncul hanya dalam pewayangan versi Jawa) ditugaskan turun ke Bumi untuk membimbing manusia. Mengayomi dunia. Buktinya, ia mengayomi dunia dalam kisah Harjuna Sasra di mana ia mengabdi pada Sumantri, sementara dalam kisah-kisah Ramayana, ia melindungi Hanuman. Kedua jalinan kisah tersebut meski tak ada hubungannya tetapi mempunyai kesamaan dalam peran Semar.
Ia dewa dengan wibawa besar, tapi ia juga rakyat jelata yang lucu dan santai. la Punakawan yang melayani, tapi kata-katanya juga di-gugu (dituruti) oleh Para raja dan bangsawan bahkan dewata. Semar selalu berada di antara dua kutub.
Dari situ asalnya nama “Semar” yang berasal dari kata smar (samar atau misteri). Pakar wayang Sri Mulyono, seperti dikutip oleh Susanto Pujo Sumarto, mengatakan, Semar adalah “samar, gaib, tak dapat dilihat dengan mata, tak dapat dirupakan, tak ada yang setara, tak ada persamaan apa pun dengan apa yang kelihatan di dunia ini.”
Tanpa batas waktu dan wilayah
Maka menjadi repot ketika Widayanto mulai tergelitik niatnya untuk mengolah tokoh Semar, menyusul suksesnya meluncukan Ganesha (1993). Ada yang nyeletuk bilang, “Bikin Semar dong!” Naluri perupanya segera menyadari tidak mudah menemukan bentuk Semar yang serba “Samar” ini, sampai pencariannya mulai mendapat jawaban dalam wayang ukur ciptaan Ki Sukasman.
Kesan mendalam terutama ditangkapnya dari sosok Gareng versi Sukasman. Kecacatan tubuh Gareng, yang kakinya serba bengkok itu justru dipakai oleh Sukasman sebagai kekuatan yang tampil dramatis. Dalam Seri wayang ukur buatan Sukasman, Semar pun ditampilkan dengan bermacam-macam ekspresi tanpa meninggalkan peran universal Semar: mengabdi, bersahaja, memimpin tanpa menggurui.
Wayang ukur ala Sukasman membantu mengkristalkan sosok Semar yang akan lahir dari proses kreativitas Widayanto. Bahwa Semarnya haruslah tanpa batas waktu dan wilayah. Ciri-ciri fisik Semar yang akan dipertahankannya: mata beyes (berair), jambul, pusar bodong, muka pucat. Beberapa simbolisasi juga dipertahankannya: subang berbentuk cabal (karena Semar selalu siap mendengarkan yang pedas-pedas) di telinganya, mulut yang sering kali mengulum batu kristal (karena bobot kata-katanya yang bermakna dalam) inspirasi tubuh montok yang sehat dipetiknya dari mengamati bentuk tubuh bayi dan pesumo Jepang.
Salvador Dali sampai Zeus
Tahun 2007 mulailah Semar-Semar Widayanto menjelma. Diawali dari sketsa, untuk setiap karya Semar disediakan 20 -30 kg tanah liat dari Sukabumi. Asisten mempersiapkan dulu konstruksi dasarnya (base). Disiapkan juga partisi-partisi dari konstruksi tanah di dalam base itu sebagai tulangan. Kemudian ia mulai membuat bentuk kasarnya. Dalam waktu sekitar dua minggu patung itu dibiarkan lebih menguat untuk kemudian dibelah dan dikerok bagian dalamnya. Lalu oleh asisten, parung direkatkan kembali sehingga terbentuk konstruksi patung berongga dengan ketebalan sama.
Selama dua minggu berikutnya patung diperhalus. Bentuk akhir dipastikan. Selama satu bulan patung kemudian dibiarkan mengering dengan diangin-anginkan. Setelah itu baru dibakar di tungku pembakaran dengan suhu 1.290° C. Sebuah proses yang membutuhkan kecermatan luar biasa. Di tahap ini patung dalam posisi khusus perlu dipotong dulu pada bagian-bagian tertentu supaya dapat masuk ke dalam tungku, untuk nantinya disambung lagi dengan konstruksi kayu. Setelah itu dibubuhkan glasir dan “kosmetika” sebagai sentuhan akhir. Ini saatnya memastikan kain sarung tampak luwes menjuntai, lipatannya wajar sehingga pemerhatinya lupa bahwa yang dilihatnya bukan kain tapi batu lempung. Guratan senyumnya bisa jenaka, tertawanya renyah, atau nyengir sinis.
Setelah melewati proses selama tiga bulan, maka jadilah Mripat Beyes, patung dengan tinggi 74 cm, lebar 52 cm dan panjang 62 cm. Kemudian menyusul Step 2 Hvn, Sleepless Batara, Moody Blue, Ayoming Jagad, dst. Beberapa jelas-jelas dipetik dari karya klasik mancanegara, seperti The Thinker karya legendaris pematung Prancis Rodin. Tanpa sungkan ia mnemposisikan Semar sebagai Dewa Zeus dalam Zeus Mar. Dali Mania menampilkan Semar sebagai Salvador Dali, lengkap dengan atribut paler dengan cat meleleh, mata nyalang jelalatan, sambil memilin kumis caplang.
Dari ke tiga puluh karyanya, separuh sudah dipesan jauh sebelum pameran digelar. Namun perupa yang tetap disiplin dan gesit di usia 56 tahun ini mengaku tak terlalu pusing apakah semua karyanya akan habis terjual atau tidak. “Yang penting saya puas telah menciptanya,” katanya. Akankah Semar jadi puncak kiprahnya sebagai perupa? “Saya tidak tahu. Saat puncak pencapaian seorang perupa akan ditentukan oleh orang lain. Saya sendiri takkan berhenti bereksplorasi.”
This entry was posted on Thursday, June 18th, 2009 at 4:57 am and is filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
0 people were on discussion.
Everyone have their own opinion about anything. Let start the discussion, add yours.