Archive for May, 2009

Wayang Akan Hilang?

Semar adalah salah satu tokoh utama dalam wayang kulit. Tanpa adanya pertunjukan wayang bisa jadi Semar hanya akan menjadi wayang hiasan. Padahal eksistensi wayang kini sedang sangat mengkhawatirkan.

Ia mirip api blencong (lampu minyak) yang meredup karena kehabisan minyak. Ia ibarat orang tua loyo yang terseok-seok berjalan di tengah gemuruhnya budaya hiburan populer yang menyihir dan memabukkan.

Mungkin itulah gambar kehidupan pagelaran wayang sekarang ini. Ia makin tersia-sia dan diabaikan. Pertunjukannya semakin jarang dan langka. Kalaupun ada, penontonnya kebanyakan orang tua. Pertunjukan wayang kulit yang secara rutin diselenggarakan sekali sebulan di gedung Sasana Hinggil Dwi Abad yang terletak di Alun-alun Selatan Jogjakarta, daerah yang dianggap benteng kebudayaan Jawa, kini hanya dihadiri seratusan lebih penonton yang membayar karcis masuk. Apakah wayang kulit sedang sekarat?

Bisa dimengerti bila Ki Manteb Soedharsono masgul. Dalang kenamaan itu prihatin akan masa depan perwayangan di Indonesia. Kini tak banyak lagi orang menanggap dalang karena tidak meminati wayang. Sebagian besar penggemar wayang pun lebih menyukai wayang sebagai tontonan hiburan.

Keprihatinan Ki Manteb diutarakannya awal Februari lalu dalam sebuah sarasehan pedalangan di Blora, Jawa Tengah. Menurut dia, pergelaran wayang mengandung dua unsur, tontonan atau pertunjukan dan piwulang atau ajaran moral. Namun kini penonton wayang lebih mementingkan unsur tontonan ketimbang ajaran moral. Begitu adegan gara-gara atau Limbukan usai, penonton pun pulang.

Ki Manteb Soedharsono tidak sendirian. Keluhan serupa juga sudah lama diutarakan sejumlah dalang, seniman dan pecinta budaya, antara lain Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, Ki Slamet Gundono dan Bambang Murtiyoso Dalam berbagai seminar, festival wayang, atau sarasehan yang diselenggarakan oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) kekhawatiran yang sama juga muncul. Mereka umumnya khawatir wayang akan makin ditinggalkan generasi muda.

Bambang Murtiyoso, pengajar di STSI Surakarta, telah lama melihat bahwa bagi dalang wayang lebih difungsikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan dan kecenderungan pasar menjadi acuan utama. Ia khawatir pakeliran yang selama ini dianggap sebagai penyangga budaya Jawa akan tumbang akibat limbah budaya massa yang bersifat hibrida dan instan, hingga akan ”mengalami nasib mengenaskan”.

Digerus oleh perubahan dan dinamika masyarakat, terutama di Jawa di mana wayang paling berakar, fondasi yang menjadi soko guru eksistensi wayang makin goyah. Budaya urban yang maunya serba cepat tidak mau lagi mengapresiasi wayang yang dianggap lamban, kuno dan ”jadul”. Serangan budaya yang lebih ”modern”, termasuk musik dangdut dan tontonan televisi, juga tambah merontokkan popularitas wayang.

Pada dasarnya keberadaan wayang, dalam berbagai jenis dan bentuk, ditopang oleh beberapa faktor. Pertama, adanya sebuah masyarakat atau komunitas yang percaya pada pranata-pranata sosial yang erat berhubungan dengan siklus kehidupan mereka. Misalnya, masyarakat agraris mengenal masa menanam, ada masa panen, dan ada waktu-waktu yang relatif kosong setelah panen (yang berhasil) yang sering dimanfaatkan untuk menyelenggarakan khitanan atau pernikahan. Saat itulah biasanya pertunjukan wayang kulit digelar.

Dinamika sosial telah dan tengah mengubah keadaan ini. Saat ini sekitar 50-60 persen penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan sisanya di pekotaaan. Diperkirakan pada 2020 nanti arus urbanisasi, bila tak ada perubahan, akan mengubah peta demografis Indonesia: sekitar 60 persen penduduk akan tinggal di perkotaan.

Dan kita tahu, wilayah perkotaan yang besar tapi sesak bukan tempat yang bersahabat dengan perwayangan. Hubungan sosial di kota lebih renggang dibanding di pedesaan. Heteroginitas penduduk yang tidak didominasi etnis Jawa, hampir tidak memungkinkan penyelenggaraan pertunjukan wayang.

Di pedesaan, sekarang hanya penduduk yang kaya atau organisasi desa yang berkecukupan, yang mampu menyelenggarakan pertunjukan wayang. Namun statistik pertanian menunjukkan bahwa jumlah petani gurem, yakni mereka yang memiliki lahan pertanian yang sempit, makin membesar. Pada 1993 hanya 51,9 persen dari 20,8 juta rumah tangga petani saat itu yang tergolong gurem. Pada 2003 porsi petani gurem 53,9 persen dari jumlah petani gurem, dan pada 2008 persentase petani gurem diperkirakan sekitar 55,1 persen. Statistik juga menunjukkan jumlah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir ini terus bertambah.

Pada 2007 jumlah rumah tangga petani kecil yang tergusur dari lahan garapannya tercatat 24.257 kepala keluarga. Tahun 2008 meningkat menjadi 31.267 kepala keluarga Maka wayang pun makin ikut tergusur dari pedesaan. ”Kini yang nanggap wayang kebanyakan pemerintah daerah atau organisasi masyarakat. Dan pertunjukan itu umumnya berisi pesan-pesan dari penyelenggara”, kata Ki Slamet Gundono, dalang dari komunitas Wayang Suket, Surakarta.

Krisis ekonomi global yang juga mengguncang perekonomian nasional, yang antara lain ditandai oleh pengangguran yang meluas, jelas tambah memperpuruk keadaan, yang berimbas pada pertunjukan wayang.

Faktor kedua yang menopang eksistensi wayang adalah adanya kebutuhan masyarakat akan suatu media yang bukan hanya bersifat hiburan, tapi juga dianggap menjadi keharusan pada ritual-ritual yang dipercayai harus diselenggarakan demi terjaganya ketenteraman dan kedamaian hidup. Misalnya selamatan menjelang suatu upacara tahunan (bersih desa, sedekah laut, menjelang dimulainya musim giling tebu), atau ruwatan. Di sini wayang berfungsi sebagai pengisi kebutuhan batin masyarakat.

Adanya kebutuhan dari suatu pemerintah atau lembaga dan organisasi masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, merupakan faktor ketiga. Pemerintah suatu kabupaten, misalnya, menyelenggarakan pertunjukan wayang untuk memelihara popularitas sang bupati atau pemerintahannya, atau untuk menyukseskan suatu program pemerintah. Organisasi masyarakat, seperti partai politik, bisa juga mengadakan pergelaran wayang untuk menjaga popularitasnya.

Untung Wiyono, Bupati Sragen, Jawa Tengah, pernah bercerita bahwa ia khusus belajar dan berlatih mendalang sejak menjadi bupati. ”Akhirnya saya berhasil dan bisa mementaskan adegan Limbukan selama sekitar dua jam”, ujarnya. Dengan begitu, katanya, ia bisa langsung menyampaikan pesan-pesan pemerintah pada masyarakat sembari menghibur mereka.

Di Jakarta, beberapa lembaga atau perusahaan secara berkala masih menyelenggarakan pagelaran wayang. Di antaranya, Dewan Perwakilan Rakyat dan perusahaan Bogasari. Yang menarik, pertunjukan itu selalu dihadiri penonton yang meluber dan bertahan hingga pagi. Tampaknya penonton urban yang menghadiri pertunjukan wayang kulit itu bukan hanya sekedar penggemar. Mereka agaknya juga merindukan kehidupan rural yang serba guyub yang sangat terasa dalam pertunjukan wayang, yang tidak lagi mereka temui di kehidupan kota.

Jadi adanya patron, berupa pribadi, kelompok atau lembaga, yang mau menyelenggarakan perhelatan wayang juga merupakan tonggak bagi eksistensi wayang. Dengan sendirinya stabilitas sosial politik (dan ekonomi) juga merupakan faktor yang juga sangat menentukan. Kita ingat, pada kemelut 1965-1966 praktis tidak ada pertunjukan wayang kulit di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena masyarakat dicekam oleh ketakutan.

Cerita-cerita wayang juga merupakan ajaran moral, sering disebut piwulang, yang dipandang perlu untuk memberikan tuntunan moral manusia untuk berperilaku baik dan benar sesuai etika dan estetika yang ideal. Anggota masyarakat yang baik adalah mereka yang aktif ikut dalam menjaga kebaikan dan kebenaran (memayu hayuning buwono). Semua ini adalah bagian dari proses mencari kesempurnaan hidup.

Selama ratusan tahun wayang dipandang sebagai simbolisasi kehidupan manusia dalam mencari kehidupan yang sempurna dan bermakna. Tokoh-tokoh wayang masing-masing mempunyai karakter yang bisa menjadi role model dalam kehidupan nyata. Gatotkaca, misalnya, adalah model sifat satria. Yudistira atau Puntadewa dalah model tokoh yang jujur dan lurus, sedang Togog adalah contoh sifat yang serakah.

Pergelaran wayang selama berabad-abad menanamkan penafsiran perilaku role model ini pada masyarakat. Yang berperan paling penting adalah para dalang. Dalam proses perkembangannya penafsiran ini bisa berubah sesuai dengan dinamika estetika masyarakat. Arjuna, misalnya, sekarang bukan lagi dianggap satria cakap yang dipuja, tapi lebih dipandang sebagai playboy. Sedang Yudistira, meski jujur dan dianggap berdarah putih, dianggap terlalu suka berjudi sehingga mau mempertaruhkan semua saudaranya, istrinya, serta kerajaannya dalam permainan dadu melawan Kurawa. Dia kalah dan harus terusir dari negaranya.

Sejak 1970-an para tokoh wayang tersebut tidak lagi menjadi model idaman. Para tokoh Indonesia pun tidak lagi menjadi idola. Kini mereka telah digantikan oleh Barack Obama atau Hannah Montana, sedang para muda mengimpikan bagaimana caranya agar bisa nge-top di televisi dan cepat kaya atau menjadi pemenang Indonesian Idol.
Berubahnya selera itu juga terlihat dalam menghilangnya ungkapan-ungkapan yang memakai tokoh wayang sebagai contoh idola. Mungkin yang tersisa hanyalah sebutan ”Srikandi” untuk menyebut wanita Indonesia yang berhasil meraih keberhasilan dalam bidang olah raga.

Jika kecenderungan ini terus berjalan tak tertahankan, wayang kulit, seperti juga beberapa pertunjukan seni tradisional lain seperti wayang orang, wayang golek, ketoprak dan ludruk, tampaknya harus bersiap masuk museum. Mungkin sekali mereka tidak akan sama sekali hilang. Wayang tidak akan masuk kotak. Namun, dengan direduksi semata-mata sebagai tontonan hiburan, tanpa ajaran-ajaran moral yang mestinya mendasarinya, wayang akan kehilangan roh nya, atau maknanya yang hakiki.

Seiring dengan itu akan meredup juga berbagai bentuk seni lain yang merupakan satu paket dengan wayang. Antara lain, seni pedalangan, seni ukir, seni suara, seni lukis, seni drama, seni kriya, dan seni sastra. Berbagai bentuk seni tradisional itu sedikit banyak akan terkena imbas meredupnya wayang, walau ada beberapa yang bisa bertahan karena bisa berdiri sendiri seperti seni suara (musik).

Menelaah tentang masa depan wayang mestinya juga perlu mengkaji perubahan perilaku penonton. Menurut Ki Tristuti Rachmadi, seorang dalang dari Grobogan, Jawa Tengah, penonton sekarang ingin hiburan yang lebih mudah dicerna. ”Mereka sekarang miskin, lapar dan frustasi”, katanya pada sebuah wawancara pada 2003. Wayang merupakan kesenian yang halus. Dulu orang masih telaten mendengarnya. Kini mereka menonton televisi dan menonton dangdut. ”Dengan dangdut mereka bisa melupakan penderitaan mereka”, katanya.

Namun satu hal perlu diingat. Wayang mempunyai daya tahan yang sangat tinggi dan luar biasa melawan gempuran perubahan. Tantangan terhadap wayang mula-mula terjadi dengan menyebarnya agama Islam di Jawa. Agar tidak bertentangan dengan Islam yang menabukan penggambaran manusia, para wali, terutama Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Kudus, mengubah dan menciptakan bentuk wayang yang lebih ornamental. Roh wayang juga diisi dengan ajaran-ajaran Islam, terutama yang bersifat sufistis, yang cocok dan sesuai dengan alam berpikir Jawa yang sarat dengan simbol-simbol dan pasemon.

Dalam zaman yang lebih modern belakangan ini, berbagai eksperimen dilakukan untuk mempertahankan eksistensi wayang. Antara lain, pertunjukan wayang dalam bahasa Indonesia (malahan pernah dalam tiga bahasa, Jawa, Indonesia dan Inggris), memperpadat pertunjukan sehingga hanya tinggal dua atau tiga jam dari sebelumnya yang hingga delapan jam. Berbgai jenis wayang baru diciptakan. Bermacam unsur humor dimasukkan dalam adegan-adegan yang serius, termasuk jejeran (adegan pembukaan). Ki Nartosabdo, dalang terkenal dari Klaten, Jawa Tengah, ini pada awal 1960-an telah memelopori ”pembaruan” ini dengan menciptakan bentuk wayang baru, seperti sepeda, sepeda motor atau wayang yang semua anggota tubuhnya bisa bergerak. Selain memadukan berbagai gaya wayang, ia juga menciptakan berbagai gending (lagu) baru yang masih populer hingga kini.

Demi mempertahankan eksistensi pula pagelaran wayang telah dimodernisasikan: makin banyak porsi disediakan buat hiburan. Adegan gara-gara atau Limbukan bisa sampai tiga jam. Perlengkapan musik Barat atau yang Islami dimasukkan, jumlah pesinden diperbanyak, musik dangdut dan campursari serta adanya pelawak di tengah adegan Limbukan atau setelah gara-gara dimasukkan. Jumlah dalang tidak hanya satu dan tata panggung, tata suara dan pencahayaan pun diubah, termasuk menyediakan ruang agar penonton bisa berjoged.

Selain itu, supaya penonton bisa ”menikmati” wajah para pesinden yang berpenampilan makin rapi, kesempatan menonton wayang dari balik kelir pun dihilangkan. Pertunjukan wayang pun sudah berubah, tidak lagi berupa bayang-bayang yang sebetulnya punya arti mistis.

Tujuan dari semua ”pembaharuan” dan ”inovasi” itu hanya satu: agar penonton tidak lari dan wayang kulit bisa tetap eksis. Dengan kata lain, bila perlu roh wayang dikorbankan agar bisa memenuhi permintaan pasar sehingga wayang tetap hidup. Ini memang sangat ironis, mematikan yang satu dan hakiki agar sang badan tetap hidup.

Bisa dimengerti bila pro dan kontra mengenai hal ini sangat sengit. Generasi tua penggemar wayang umumnya ingin tetap mempertahankan wayang yang ”klasik”, sebagian lainnya tidak keberatan akan pembaruan atau modernisasi wayang asalkan eksistensi wayang kulit bisa bertahan. Sebagian lain pula bersikap tidak peduli.

Upaya untuk mempertahankan eksistensi pertunjukan wayang klasik ini tampaknya harus dipecahkan bersama oleh pemerintah dan masyarakat, meski semestinya pemerintah perlu lebih berperan karena wayang adalah seni yang sangat berorientasi pada pemerintah atau penguasa (dahulu kraton). Secara tidak langsung dalam wayang selalu ada pesan tersirat agar masyarakat ”patuh” dan mendukung yang berkuasa. Setiap pembukaan wayang (jejeran) juga selalu diisi dengan penggambaran suatu komunitas yang didambakan (imagined communities) yang melukiskan negara yang aman, tenteram, adil dan makmur di bawah sang raja yang bijaksana.

Mungkin karena itu hingga kini kritik terbuka lewat wayang masih merupakan tabu. Yang dilakukan dalang paling-paling adalah melakukan kritik sosial yang dilakukan melalui gurauan panakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) atau oleh Cangik dan Limbuk.

Dominasi pemerintah juga mempengaruhi wajah wayang. Suatu contoh adalah hilangnya tokoh wayang Brayut sejak tigapuluhan tahun lalu. Tokoh Brayut suami isteri ini menggambarkan petani yang mempunyai banyak anak, antara 16 sampai 18, bahkan sampai 40 anak. Brayut ini simbol dari filosofi ”Banyak anak banyak rezeki” yang jelas bertentangan dengan program Orde Baru yang mengatakan ”Dua anak cukup”. Maka, tokoh wayang yang sudah ada sejak abad 13 ini pun di persona non grata kan dan hilang dari kotak.

Wayang memang sering dimanfaatkan untuk mendukung program pemerintah. Pada 1995, misalnya, disusun dan dipentaskan lakon Semar Mbabar Jatidiri yang digubah oleh PEPADI. Lakon ini sesungguhnya adalah pemasyarakatan P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) setelah para dalang menerima dawuh (wejangan) dari Presiden Soeharto pada 21 Januari 1995. Dalam lakon itu Semar berperan sebagai ”manggala” yang memberikan wejangan bagaimana cara terbaik untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila.

Apakah dengan menjadikan wayang lebih kritis akan memungkinkan ia lebih populer? Belum tentu, karena ”peluang” wayang untuk melancarkan kritik sosial terbatas, lagi pula mungkin sangat sulit untuk mengubah cara berpikir dalang yang sudah ratusan tahun terbentuk untuk bersikap moderat. Sebagian besar dalang muda tampaknya juga tunduk pada tuntutan pasar agar mereka memberikan hiburan dan meniadakan ajaran-ajaran moral yang dianggap ndakik-ndakik (ruwet). Di samping itu, menurut sejumlah dalang, penonton tampaknya juga kurang suka kritik-kritik yang vulgar.

Mungkin salah satu cara untuk mempertahankan wayang kulit klasik adalah untuk mengadakan pertunjukan non-komersial secara rutin. Artinya pertunjukan diadakan untuk kepentingan memelihara budaya saja. Dengan begitu tuntutan pasar bisa dipatahkan. Dengan sendirinya pemerintah atau lembaga-lembaga independen perlu menjadi sponsor atau memberikan subsidi.

Peran media tentu saja sangat penting. Meski rating nya kecil, pertunjukan wayang kulit di televisi harus terus didorong karena pengaruh dan jangkauan televisi yang sangat luas. Celakanya perusahaan televisi umumnya cenderung mencari untung dan sangat tergantung pada rating. Munculnya televisi daerah, terutama di Jawa, bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan popularitas wayang. Televisi mungkin juga bisa mengemas secara modern dan menarik pementasan wayang yang padat dan singkat tanpa terjebak pada hiburan yang dangkal belaka.

Wayang kulit juga dapat memanfaatkan teknologi informasi yang makin canggih. Sebuah blog di Internet yang belum lama ini menawarkan pada peminat untuk dapat mengunduh beberapa lakon wayang tradisional ternyata memperoleh cukup banyak peminat. Mereka kebanyakan mengaku merasa ”terasing” di kehidupan urban Jakarta dan merindukan suasana guyub dan hiburan ala pedesaan Jawa yang bisa menyejukkan batin mereka.

Penggandaan pertunjukan wayang kulit dalam bentuk digital ini berpotensi sangat besar. Bila dikemas dengan menarik bukannya tidak mungkin popularitas wayang kulit bisa dipertahankan. Malah bisa jadi jumlah penonton digital ini akan lebih besar dibanding penonton tradisional yang ada selama ini karena teknologi digital akan mempermudah akses ke wayang. Mereka mungkin merupakan penonton yang pasif karena tidak secara langsung hadir dalam pagelaran wayang yang langsung (hidup). Tapi justru merekalah yang di masa depan akan dapat terus mempertahankan eksistensi wayang. Malah perlu dipikirkan juga dibentuknya komunitas penggemar wayang di perkotaan di mana mereka secara berkala bisa berkumpul dengan guyub dan menonton bersama lewat layar monitor.

Pertunjukan wayang bisa digolongkan pada slow art. Beberapa tahun terakhir ini telah mulai berkembang apresiasi yang lebih besar pada hal-hal yang lambat (in praise of slowness) yang merupakan antitesis dari konsep serba cepat. Lambat tidaklah berarti lamban atau nguler kambang yang serba alon-alon ora kelakon (pelan tapi tidak terlaksana). Gerakan lambat (slow movement) ini cenderung berorientasi pada gaya hidup yang tetap bermakna tapi tidak perlu harus terburu-buru.

Sebagai sebuah seni pertunjukan wayang kulit memang sangat unik. Para penonton umumnya secara garis besar telah tahu jalan cerita yang dimainkan. Dengan santai mereka menonton sambil berjalan hilir mudik, makan-minum atau tidur selama pertunjukan berlangsung. Mereka akan bangun dan menonton dengan tekun pada adegan-adegan tertentu dan akan tertawa dan bersorak bila dalang menunjukkan kepiawaiannya.

Di dalam ruang konsep hidup lambat ini wayang kulit mungkin akan bisa lebih eksis, meski pertunjukan harus dikemas hingga unsur ajaran moral tetap dipertahankan.

Salah satu temuan yang menggembirakan adalah hasil penelitian yang dilakukan pada 1995 oleh Lembaga Penelitian IKIP (sekarang Universitas Negeri) Jogjakarta. Penelitian dilakukan pada seluruh siswa kelas III SLTP Jogjakarta mengenai apresiasi mereka terhadap sastra wayang. Hasilnya: 78,24 persen siswa menggemari, menikmati, mereaksi dan memproduksi sastra wayang. Hal ini berarti pengetahuan dan ketertarikan mereka pada wayang sangat tinggi. Bila ditarik ke masa kini, mereka yang dulu masih di SLTP dan kini mestinya bekerja di masyarakat, merupakan kelompok yang sedikit banyak menggemari wayang.

Kesimpulannya, kita harus tetap optimistis akan masa depan wayang. Meski sekarang diterpa badai dan dinamika zaman telah mengubah wayang, kita mesti harus tetap percaya bahwa wayang tidak akan masuk kotak, berdebu, usang dan ditinggalkan. Sebuah kekayaan dan warisan yang jelas sangat tinggi nilainya itu mestinya menggugah kesadaran kita untuk tetap mempertahankan dan mengembangkannya.

Marilah kita kutip kata-kata bijak dari Ki Timbul Hadiprayitno, dalang senior dari Kutoarjo, Jawa Tengah. Ia tidak bisa membayangkan dunia tanpa wayang. Ia juga yakin keadaan wayang yang sekarang terpuruk nanti akan pulih. ”Saya tetap percaya bahwa besok semua akan kembali seperti semula. Di Jawa wayang tidak akan hilang. Wayang sudah mengakar di hati rakyat, dari yang miskin sampai yang kelas menengah, bahkan yang kelas tinggi. Mereka semua masih cinta wayang. Tidak mungkin pulau Jawa akan kehilangan wayang”, ujarnya.

Rindu Semar

Mengapa Semar? Mengapa F. Widayanto memilih tokoh wayang Semar sebagai karya keramiknya yang terbaru?

Tokoh Semar telah lama dieksplorasi oleh banyak seniman. Sastrawan seperti Danarto, Sindhunata dan Seno Gumira Ajidarma pernah menjadikan Semar tokoh utama dalam cerita pendek mereka. Sudjiwo Tedjo mengangkat dia dalam lukisan-lukisannya. Selama berpuluh, mungkin beratus tahun, para pengrajin tembikar Jawa telah menjadikan sosok Semar, dengan tubuhnya yang gendut, sebagai bentuk yang pas untuk menjadi celengan.

Pengaruh Islam terutama aliran sufi telah membentuk lukisan Semar dalam bentuk kaligrafi tulisan Arab berbahasa Jawa, antara lain ada yang berbunyi ”Baya sira mardi kamardikan, aywa samar sumingkiring dur-kamurkan” (Jika engkau hendak mencapai bersih jiwamu dan tidak terikat oleh duniawi, jangan samar (ragu-ragu) terhadap sirnanya nafsu angkara murkamu).

Para seniman lukisan kaca juga telah lama memilih tokoh Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk dan Bagong, sebagai tokoh favorit mereka. Sosok Semar telah berpuluh tahun pula dijadikan logo oleh banyak produk.

Tapi Semar Widayanto bukanlah Semar yang biasa kita kenal. Oleh Widayanto Semar telah diglobalisasikan menjadi ”Semar internasional”. Semar Widayanto bisa mancala putra mancala putri (berubah rupa). Ia dapat menyapa Ni hao (Apa kabar?). Ia bisa pula berupa dewa Yunani Zeus, atau Yesus (King of King). Ia juga dapat dijuluki Emperor of the East, bahkan menjadi jagoan alias The Champ. Lalu ia pun kembali ke Nusantara menjadi Sang Hyang Ismayajati , Badranaya atau Sang Hyang Jiteng.

Itu tidak berarti ia telah dicabut dari akar Jawa nya. Secara lahiriah ia masih tetap Semar tradisional: gendut dengan perut buncit, payudara gede serta pantat yang nyaris merosot. Matanya beyes (rembes) dengan mulut yang entah menangis atau tertawa, entah sedang sedih atau gembira. Jambul rambutnya tampaknya memang sengaja dibuat Widayanto ”se-ekstravaganza” mungkin, mirip punk. Lalu telinganya yang ditindik dihiasi secara tradisional dengan cabai merah yang besar.

Globalisasi Semar Widayanto telah membuat dia menyeberangi lautan, terbang di angkasa, menembus ruang dan waktu, melanglang dan menerjang batas-batas ras, bangsa dan budaya, dan menjadikan dia Semar yang khas Widayanto.

Namun ia tetap Ki Lurah Semar dari Karang Tumaritis. Ia juga masih Ki Badranaya yang berwajah laksana bulan purnama. Ia juga yang dikenal sebagai Janggan Smarasanta, artinya menjadi guru setiap orang yang belajar mengekang diri, sabar dan rela. Ia juga Ismaya, bahwa sebenarnya ia berasal dari cahaya sejati kehidupan.

Di tangan Widayanto ia seperti ada di mana-mana tapi juga tak ada di mana-mana. Ia ada tanpa tempat, tapi berada di segala tempat.

Semar jelas adalah produk Jawa, seorang pribumi Indonesia. Ia tidak ada dalam kitab Ramayana atau Mahabarata yang berasal dari India, yang merupakan induk dari hampir semua cerita wayang. Ia sengaja diciptakan oleh orang Jawa untuk bisa mengalahkan dewa-dewa Hindu yang merupakan penguasa dunia. Maka Semar pun dikonstruksikan menjadi Ismaya, yang lebih tua dan lebih sakti dari Batara Guru alias Manikmaya yang menguasai dunia dan Surgaloka.

Agar keluar dari mitologi Hindu, wayang Jawa oleh Wali Sanga diadaptasikan dengan Islam sehingga bisa menjadi media dakwah yang ampuh. Penyesuaian ini bukan saja bentuk fisik wayang, tapi juga ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kisah-kisahnya. Seiring dengan itu para tokoh wayang (dan juga para ”keturunannya” yakni raja-raja Jawa) disebut sebagai keturunan Nabi Adam. Maka wayang yang sebelumnya bersifat Budha-Hindu diberi roh Islam sehingga, misalnya, pusaka Pandawa yang paling sakti adalah Jimat Kalimasada, nama Jawa dari kalimat syahadat.

Banyak versi tentang siapa Semar dan sejak kapan ia ”lahir”. S. Haryanto, misalnya, mengatakan bahwa tokoh Semar telah muncul dalam kitab Gatotkacasraya yang ditulis Empu Panuluh pada abad 12 di Kediri. Namun perlu dicatat, menurut Kepustakaan Djawa yang ditulis oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja, dalam buku itu Empu Panuluh tidak tegas menyebutkan bahwa panakawan yang mengiringi Abimanyu bernama Semar, tetapi bernama Jurudyah dan Prasanta, yang kemudian dianggap nama lain Semar.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Semar baru pertama kali muncul dalam kitab Sudamala yang terbit pada zaman Majapahit (abad 13-14).

Apapun, dalam konteks pameran Semar Widayanto hal itu tidaklah terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa sebenarnya ”roh” Semar. Semar Widayanto dilahirkan untuk apa?

Masyarakat Jawa percaya, Semar ditugaskan turun ke bumi untuk membimbing dan mengayomi manusia. Dia adalah simbol rakyat jelata atau wong cilik yang jujur dan sederhana. Ia bisa marah, mengamuk dan mengalahkan semua dewa demi membela kebenaran dan rakyat jelata. Senjatanya adalah senjata yang sangat kerakyatan, yakni kentutnya yang kesaktiannya tidak ada bandingnya.

Sebagai panakawan dan pamong ia sering diperlakukan jelek oleh para majikannya, toh ia selalu bersikap merendah walau terkadang ia bisa meledak dan mengamuk. Semua penonton wayang (rakyat) tahu bahwa tanpa bimbingan dan pengayoman Semar para Pandawa atau siapapun majikannya, tidak akan bisa menyelesaikan tugas mereka.

Bentuk tubuh Semar dan anak-anaknya yang cacat dan tidak sempurna sangat jauh dari bentuk tubuh para priyayi atau satria yang merupakan penguasa, namun rakyat melihat hal itu sebagai simbol bahwa bentuk lahir tidaklah penting: toh tanpa mereka (rakyat) sang penguasa tidaklah berarti apa-apa.

Karena itulah Semar merupakan tokoh yang dicintai rakyat Jawa. Setidaknya ada sepuluh lakon wayang yang menjadikan Semar sebagai tokoh utama. Antara lain: Semar Papa, Semar Mbangun Gedong Kencana, Semar Kuning, Semar Minta Bagus dan Semar Boyong.

Dalam pertunjukan wayang, Semar dan anak-anaknya biasanya muncul setelah terjadi gara-gara atau chaos (kekacauan atau bencana), yang oleh sang dalang digambarkan dalam ungkapan populer yang kini masuk menjadi perbendaharaan bahasa nasional sebagai ”Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap…. ”. Sebab itu di saat keadaan negara kacau balau, masyarakat Jawa mengharapkan munculnya tokoh Semar untuk memulihkan keadaan. Dalam istilah politik modern mungkin Semar bisa disebut sebagai people’s power.

Untuk mengangkat Semar sebagai kekuatan dahsyat yang tak terkalahkan, dibangunlah berbagai misteri yang magis tentang dia, terutama tentang asal usulnya. Demikianlah, misalnya, ada versi yang mengatakan bahwa Semar atau Ismaya berasal dari putih telur sedang Batara Guru berasal dari kuning telur dari telur yang diciptakan Sang Hyang Tunggal semasa semesta masih berupa awang-awung (suwung atau kosong). Sedang Togog berasal dari kulit telur.

Nama Semar sendiri memberikan cukup alasan untuk membangun kemisteriusannya. Demikianlah Semar disebut berasal dari kata smar yang berarti samar atau misteri. Ada juga yang berteori bahwa nama Semar berasal dari kata semat yang berarti bulat.
Menurut pakar wayang Sri Mulyono, Semar ”adalah Samar, gaib, tak dapat dilihat dengan mata, tak dapat dirupakan, tak ada yang setara, tak ada persamaan apapun dengan apa yang kelihatan di dunia ini”. Selanjutnya ”Ia momong, momot, menuntun, mengayomi, menerima, memberi, mencintai dan berbuat untuk segalanya tanpa mengharapkan jasa”.

Beberapa pakar menyebut Semar sebagai danyang (tokoh tua dan pelindung) Jawa. Magnis Suseno menafsirkan Semar yang bentuk tubuhnya tidak sempurna dalam konteks etika Jawa yang melihat bahwa dalam menilai derajad kemanusiaan yang dilihat mestinya bukan bentuk lahiriah tapi sikap batinnya.

Menurut Sri Mulyono, Semar sama sekali bukan Tuhan. Semar adalah salah satu tokoh wayang kulit yang diberi sifat Ilahi atau dewa untuk mengalahkan kekuasaan dewa atau Batara Guru.

Menurut Prof. I.R. Poedjawijatna, Semar adalah pengayom dunia. Dalam pewayangan ia bukan hanya ikut Pandawa. Ia juga muncul dalam siklus-siklus lain. Misalnya pada siklus Harjuna Sasra ia mengabdi pada Sumantri, dalam siklus Rama ia melindungi Hanuman. Siklus ini tidak ada hubungannya satu sama lain. Penghubung sebenarnya adalah pelindung dunia itu, yakni Semar.

Semar ada di hampir semua jenis wayang. Di Jawa Barat Semar mempunayi anak Astrajingga (Cepot), Udawala dan Udel. Di Cirebon Semar mempunyai delapan anak Petruk (Udawala), Gareng, Bagong, Bitaroga, Ceblok, Cungking, Bagalbuntung dan Curis. Di Bali Semar bernama Twalan.

Semua 30 buah Semar ala Widayanto yang dipamerkan di sini membawa gunungan yang bentuknya tidak mirip gunungan dalam wayang, tapi bentuknya semacam kipas. Dalam wayang tradisional gunungan merupakan lambang simbol keselarasan hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam wayang gunungan punya multi fungsi, sebagai pembuka, peralihan adegan atau penutup pertunjukan (tancep kayon), bisa pula dipakai sebagai gunung, angin, tsunami, atau bentuk apapun yang tidak ada dalam wayang yang tersedia.

Semar Widayanto, apakah ia berupa Zeus atau Yesus, selalu membawa gunungan seakan-akan menggambarkan dalam wujud apapun Semar akan menjadi pengayom dunia yang bertugas untuk mengajarkan agar manusia harus hidup selaras dan menjaga lingkungannya.

Kalau pun ada yang mengatakan Widayanto telah mengobrak-abrik Semar yang ”tradisional” karena telah mendadani dia dengan fashion yang mutakhir, mungkin hal itu ada benarnya. Tidak ada Semar dalam koleksi ini yang memakai kain bermotif kawung seperti Semar wayang.

Yang terdeteksi dari Semar Widayanto ini adalah rasa humornya yang tinggi dalam memberikan ”nama” pada Semar-Semarnya. Misalnya, ada yang dinamai Step 2 HVN, Mripat Beyes, Tumaritis Dream atau Sleepless Batara. Pendekatan yang humoris, santai dan ”nakal” seperti itu juga selalu ada dalam karya-karya terdahulunya, Dengan begitu Widayanto seperti tidak ingin menjadikan karyanya sebagai suatu bentuk yang sakral tapi tetap karya seni yang santai, lucu, kreatif dan mbeling (nakal).

Memang, seperti juga pada karya-karya keramiknya yang dulu Widayanto sangat mementingkan detil, misalnya cincin, kalung dan aksesoris lain yang dikenakan Semar. Tapi bukankah pakaian dan segala tetek bengek aksesoris yang dipakai itu hanyalah sekedar baju atau tempelan? Bukankah yang paling esential adalah Semar nya sendiri, jiwa yang ada dalam sosok Semar? Zeus pun tetap berwajah dan berbentuk Semar. Diberi nama King of King atau Emperor of the East atau juga Belly Dragon, ia tetap Semar “kita”. Mengutip Shakespeare, Semar dalam berbagai nama lain akan tetap sang Semar yang berwajah ramah dan arif, Semar yang dewa tapi juga yang rakyat jelata.

Dengan Semar-Semarnya ini Widayanto sebenarnya telah membebaskan Semar dari konsep-konsep Jawa yang umumnya inward-looking (berorientasi ke dalam). Ia melepaskan Semar dari penafsiran yang sebelumnya lebih menghubungkannya dengan “sufisme Jawa”, Kejawen atau “jagad mistik Jawa”. Namun Widayanto tetap setia pada bentuk lahiriah Semar yang tradisional.

Ketertarikan Widayanto pada Semar sebetulnya sudah lama. Lahir dan tumbuh besar di Jakarta, sebetulnya ia tidak pernah hidup dan tinggal di Jawa. Adalah orang tuanya yang menumbuhkan dia untuk memahami roh Jawa. Ayahnya, Prof. I.R. Poedjawijatna mengajar filsafat di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara serta menulis sejumlah buku, antara lain, yang membahas wayang dan Semar. Ibunya, Ny. Soemarni, yang selalu memakai busana Jawa, berperan penting untuk membawa Widayanto dalam suasana budaya Jawa.

Budaya Jawa memang mempesona Widayanto. Sebelumnya ia membuat karya-karya yang bertema kendi, ukelan (konde atau sanggul) serta Ganesha, yang merupakan lambang almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Widayanto memerlukan waktu beberapa tahun untuk memahami karakter Semar. Sekitar 2003, seusai pameran Ganesha, ia membuat sketsa Semar di atas lempengan keramik. ”Selanjutnya saya total berhenti karena sukar menemukan sosok atau wujud yang pas buat Semar”, ujarnya.

Baru pada 2006 ia mulai berani menggarap patung Semar. Keberanian itu muncul setelah ia mempelajari semangat Sukasman, yang menciptakan Wayang Ukur pada 1964. Disebut wayang ukur karena dalam proses pembuatannya selalu diukur bentuk tinggi dan panjang pundaknya. Pagelaran pertama wayang ukur diselenggarakan di Museum Sana Budaya, Yogyakarta pada 1975.

Tampaknya Widayanto dalam eksplorasinya telah menemukan ”akar” yang dicarinya, yakni Semar yang merupakan simbolisasi dari segala sesuatu yang ”Jawa”, termasuk etika, cara berpikir, dan pandangan hidup. Ia sengaja memilih Semar dalam eksplorasi karya seninya karena ia juga prihatin melihat wayang sebagai seni pertunjukan kini sudah sangat berkurang peranannya.

Benedict R.O’G. Anderson, seorang Indonesianis terkemuka dari Amerika Serikat, pada 1965 menyebutkan bahwa wayang ”telah memasuki musim gugur”. Dan pada pohon budaya Jawa ”daun telah jatuh satu per satu”. Ben Anderson pun bertanya: ”Pertanyaannya sekarang adalah apakah akar akan memberi makanan bagi daun-daun dan bunga-bunga yang segar untuk musim semi yang baru. Akankah tradisi bertahan dalam kepunahan dasar sosialnya?”.

Frans Magnis Suseno lebih dari duapuluh tahun lalu juga telah mengingatkan akan bahaya keterasingan masyarakat Jawa terhadap nilai-nilainya sendiri bila wayang menghilang. Pendidikan formal di Indonesia kini hampir seluruhnya dikuasai oleh alam pikiran Barat. Wayang merupakan salah satu sumber ajaran pendidikan etika Jawa. Makin menurunnya pertunjukan wayang, apalagi bila yang tersisa kebanyakan hanya hiburan dan tak berisi ajaran-ajaran moral, jelas akan menjauhkan orang Jawa dari nilai-nilai Jawa.

Eksplorasi F. Widayanto pada Semar bisa dipandang sebagai usaha untuk membangkitkan kembali minat pada wayang (Semar) dan ajaran-ajaran moral Jawa. Hal ini jelas merupakan usaha untuk menyirami akar pohon budaya Jawa ini (wayang). Dengan sadar ia memilih untuk membawa Semar keluar dari dunia Jawa dan Indonesia, mendesakralisasinya serta menempatkannya pada konteks internasional, namun karakter Jawanya masih tetap dipertahankan.

Ini bukan suatu pendangkalan atau sekedar ”memodernkan” Semar. Widayanto agaknya menginginkan agar Semar (dan wayang) lebih ”menginternasional”. Ia ingin membuktikan bahwa wayang bisa dan sanggup tetap hidup dalam situasi yang bagaimanapun.

Di tangan Widayanto Semar memang telah menjadi tokoh yang tak membuat kening berkerut. Dari tangannya terbentuk Semar yang santai, leyeh-leyeh, bersahaja dan mau mengabdi pada sesama serta mudah untuk diakrabi. Semar yang mengglobal ini bisa menerima dan memahami perbedaan dan bertoleransi. Semangat Semar Widayanto adalah untuk menjadi seorang pamong kang semi ing pamrih, rame ing gawe (pamong yang bekerja tanpa pamrih).

Upaya Widayanto ini sangat layak diapresiasi sebagai bagian dari usaha untuk menegakkan nasionalisme budaya. Ini bukan sekedar upaya yang secara klise sering disebut sebagai ”pelestarian budaya”. Widayanto ingin agar siraman yang dilakukannya bisa memberi makanan bagi daun-daun dan bunga-bunga yang segar untuk musim semi yang baru.
Widayanto telah mencoba nyebul (meniupkan) Semar dengan nafas baru. Ia tidak akan sendirian.

Ki Semar dari Dapur Tembikar

Gara-gara mencari ide siapa Semar itu, F Widayanto seperti biasanya menjadi blingsatan, dia senang bertanya ke kanan dan kiri, ke kawan dan rekan ngobrolnya untuk memancing keluarnya ide tambahan, perihal siapa Semar – tokoh wayang tradisional Jawa yang bagi kebanyakan orang, hanyalah berwujud sesosok lelaki berbadan terokmok, serta memiliki anak-anak bernama Petruk, Gareng dan lainnya yang juga berwujud aneh, bersosok dan berparas muka tidak umum.

Kalau sudah terangsang gagasan untuk bikin ini atau itu, artinya Yanto setiap hari pikirannya hanya tertuju soal “bikin ini itu” saja. Misalnya zaman tahun 1992, saatnya lagi bernas-bernasnya gagasan Yanto membentuk Ganesha yang sosok dewa berbadan manusia campuran bentuk gajah. Memang sejak tahun 1987, beberapa tahun setelah lulus pada tahun 1981 sebagai keramikus atau perupa seni tembikar dari Jurusan Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Yanto sudah masih menjejak tapak seni rupanya, khusus sebagai perupa dan pembentuk benda seni berbahan “tanah air” alias tembikar.

Sebagai perupa bentuk tembikar, Widayanto selalu mengaku dirinya bersubsidi uang kuliah, karena bakatnya sejak muda berwirausaha. “Gue zaman kuliah, dulu demen banget bikin baju berbahan kain belacu dengan kancing batok kelapa. Juga memelihara anjing dobermann atau tekel. Selain hobi ternyata anjing pun bisa menjadi sumber pemasukan uang untuk tambahan biasa transpor Jakarta-Bandung,” ucapnya suatu ketika, ketika mengenang zamannya mengendarai sepeda motor besar trip Setiabudi – ITB ulang-alik.

”Zaman itu dengan genk gue, kami bikin grup bintes alias bimbingan tes untuk calon mahasiswa peminat masuk ke ITB. Grup itu sempat ngetop, namanya Spektra alias Sepuluh Pemuda Keren tapi Rada Acuh he he, itu serius tauuk. Itu bimbingan tes gratis, gue gak dapet apa-apa, paling nampang dan cari kecengan he he!” Katanya mesem-mesem. Namun Yanto makin tersipu-sipu, saat melihat karya kartu natal dan tahun baru bikinan goresan tangannya tahun 1980-an. ”Eh iya, itu bikinan gue, kalian dapet di mana? Kartu itu buat cari duit bensin ha-ha.”

Rahasia Widayanto sejak muda sudah bisnis, hal itu bukan rahasia dapurnya. Yanto di tengah tahun 1980-an saja, sudah berani buka semacam galeri di Duta Merlin di Jalan Gajah Mada yang masa itu terkenal sebagai pusat jual-beli komoditas keren, sebelum adanya gedung mal atau sejenis plasa-plasa. Di galerinya terpajang benda tembikar atau stoneware yang saat itu masih barang langka. Salah satu yang mencolok perhatian pengunjung, karena Yanto menjual bentuk-bentuk kendi dan wadah air, sebagai benda seni bukan benda fungsional macam teko atau bejana.

Karyanya mulai merembes perhatian pencinta seni rupa, khususnya seni rupa berbahan tembikar yang bukan beling atau porselen. ”Wadah Air” pun menjadi tema pameran formalnya di Erasmus Huis, pada tahun 1987. Aneka wadah air atau water vessel yang bejana air, biasanya merupakan benda pakai meja dan dapur, kini Yanto menghadirkannya menjadi benda seni bermakna pajangan dan penghias untuk desain interior. Dari pameran formal pertamanya itu, Yanto yang ”keramikus” mulai mencuri pandangan beberapa pemerhati benda seni rupa.